Kenangan Sejarah Banda Aceh Tempoe Doeloe

Oleh: Hasyim KS

BAGIAN 1

Lenyapnya bekas-bekas sebuah kerajaan yang megah dari berbagai runtun para Sultan dan Sultanah di Aceh, menurut perkiraan beberapa pengamat sejarah adalah karena Aceh beda dengan kerajaan-kerajaan terkenal lainnya di Nusantara dalam bangun membangun sarana. Ternyata Aceh didominasi oleh budaya kayu sehingga tidak awet untuk ditemukan di zaman sekarang ini. Kecuali beberapa monumen seperti Gunongan salah satu peninggalan Sultan Iskandar Muda berikut sebuah gerbang kecil sebagai pintu belakang istana yang disebut Pinto Khob, khusus untuk para kerabat kerajaan untuk bersiram (manoe meu-upa) di Sungai Krueng Daroy. Plus beberapa situs sebagai makam-makam tua para penguasa dan keluarga kesultanan, awet karena terbuat dari bahan baku batu.

Gedung-gedung Tua

Kalau pun di usia 795 sekarang (pada tahun 2000, -red) di Banda Aceh terdapat beberapa bangunan-bangunan tua yang telah antik, adalah bangunan-bangunan yang berusia antara 70 sampai 100 tahun, rata-rata dibangun dalam masa kerajaan Aceh telah tiada setelah tahun 1874 M. Kecuali bangunan Masjid Teungku Anjong yang telah beberapa kali direnovasi yang berusia sekitar 300 tahun.

Bangunan-bangunan yang sedikit yang berada di Banda Aceh tersebut adalah Masjid Tgk. Anjong: Bangunan yang telah berusia lebih kurang 300 tahun ini terletak di Peulanggahan. Menurut buku "Masjid-masjid Bersejarah di Indonesia" oleh Abdul Baqir Zein, masjid ini dibangun oleh seorang ulama di zaman Sultanan Alaidin Mahmud Syah di abad 18. Ulama karismatik tersebut bernama Syeh Abubakar berasal dari Hadratulmaut (Arab). Kebiasaan dalam masyarakat Aceh, seseorang yang menjadi tokoh, maka masyarakat memberian nama sebagai panggilan akrab, maka Syeh Abubakar diberi nama panggilan akrab Teungku Anjong. Untuk ukuran sekarang bangunan tersebut betul-betul antik dan tercantum dalam sederetan koleksi masjid-masjid tua di Indonesia.

Masjid Raya Baiturrahman

Masjid ini dibangun oleh pemerintah Belanda tahun 1879 dan siap pakai 1881. Ketika itu petingginya adalah Gubernur Militer dan Civil, Letnan Jenderal K. Van der Heijden yang merasa harus mengganti Masjid Raya yang terbakar habis ketika penyerbuan Kumpeni Belanda tahun 1874. Ketika penyerbuan itu Masjid Raya terbuat dari bahan kayu, beratap ijuk.

Beberapa catatan mengatakan banyak jatuh korban dikedua belah pihak untuk merebut Masjid Raya yang dijadikan basis lasykar Aceh. Pasukan Belanda berhasil menghancurkan masjid setelah menembakan meriam berpeluru api. Beberapa jam setelah masjid yang telah jadi arang itu diduki, komandan tertinggi Belanda, Jenderal Kohler yang sedang berada di halaman masjid, tewas ditembak oleh sniper Aceh yang konon membidik sang jenderal dari belukar-belukar, kira-kira di sekitar bekas gedung PMABS sekarang.
Untuk mengembalikan kepercayaan orang Aceh, maka lima tahun kemudian dibangun penggantinya, sebuah masjid konstruksi beton dengan kubah tunggal. Bangunan asli tersebut sekarang ini berada di tengah-tengah, yang ada jam kuno. Masjid Raya Baiturrahman setelah beberapa kali perluasannya setelah kemerdekaan Indonesia, telah memiliki 7 kubah dan 4 menara azan seperti sekarang ini. Sementara di halamannya yang dulu adalah jalanraya, berdiri sebuah menara setinggi 45 meter, yang disebut sebagai Menara Perjuangan dan adalah bangunan tertinggi di Banda Aceh.

Pendopo Gubernuran

Setelah Aceh diduki oleh pasukan kumpeni Belanda tahun 1874, setelah membenah negeri yang kemudian disebut masyarakat Aceh sebagai Kutaraja (jangan salah. Belanda lebih suka menyebutnya "Kota Raja" yang jauh menyimpang dari makna Kutaraja sebenarnya. Ini barangkali yang berbau kolonial yang perlu dikembalikan kepada makna Kutaraja yang sebenarnya-Pen).

Tahun 1881 sebuah bangunan yang ketika itu disebut istana, siap dibangun di atas bekas bangunan istana Sultan Aceh yang disebut Dalam. Di atas pertapakan bangunan Dalam itu dibangun sebuah rumah dinas resmi bergengsi yang setelah kemerdekaan Indonesia tahun 1945 disebut Pendopo Gubernuran dan sekarang ini disebut Meuligoe (Mahligai), tempat resmi siapapun yang menjabat Gubernur Aceh.

Bangunan ini bahan bakunya melulu dari kayu yang dipesan khusus dari Kalimantan (kayu besi). Petinggi Belanda pertama yang menghuni tahun 1881 adalah Gubernur Militer dan Civil, Letnan Jenderal K. Van der Heijden yang oleh orang Aceh disebut "Jenderal Bermata Sebelah" karena ketika memimpin pertempuran di Samalanga, sebelah matanya cedera ditembus peluru lasykar Aceh.

Dari berbagai sumber dikatakan semenjak siap huni tahun 1881 ada 22 petinggi Belanda yang menempati bangunan tersebut. Dan dalam masa pendudukan Jepang (1942-1945), hanya satu petinggi Dai Nippon sempat menempati "istana" tersebut yaitu Jenderal Mayor Syozaburo Iino.

Sentral Telepon

Bangunan bulat seperti mercusuar berlantai dua ini dibangun semasa masih berkecamuknya perang Aceh. Bangunan separoh beton yang cukup tebal dibagian bawah sebagai perisai kalau ada penyerbuan lasykar Aceh dan diatasnya bahan dari kayu yang tahan cuaca, terletak di persimpangan Jln. T. Umar dengan jalan ke arah Neusu dan Meuligoe, tidak jauh dari Simpang Jam. Tepatnya dekat bekas galon minyak Saleh Rahmani.

Inilah gedung pelayanan telepon satu-satunya yang beroperasi semenjak tahun 1903 milik Kumpeni Militer Belanda khusus untuk untuk keperluan perang Aceh. Sedangkan kantor pelayanan telepon untuk umum, dibangun tahun 1931 di lokasi Kantor Telepon sekarang dengan gedung dan peralatan moderen. Sayangnya gedung yang aslinya bukan diawetkan tapi dirubuhkan tanpa meninggalkan bekas sebagai bukti sejarah perteleponan di negeri ini.

Bangunan bulat sentral telepon Kumpeni di dekat Simpang Jam, pada masa pendudukan Jepang 1942-1945, difungsikan juga untuk keperluan perang. Sampai menjelang tahun 1960 setelah Indonesia merdeka, bangunan kuno ini masih dipakai sebagai Kantor Telepon Militer Kodam I/Iskandarmuda yang disebut Wiserbot (WB) Taruna. Sampai tahun 2000 sekarang ini berturut-turut telah dipakai sebagai Kantor KONI, Kantor Surat Kabar Atjeh Post dan terakhir sebagai Kantor PSSI. Banyak yang mengharapkan agar bangunan ini jangan sampai dibongkar pula.

Gereja Katholik

Gereja Katholik Hati Kudus ini diresmikan pemakaiannya tanggal 26 September 1926 oleh Pastor pertama, Pastor Kepala Augustinus Huijbregets. Bangunan terletak di ujung jembatan Pantee Pirak arah Simpang Lima dengan gaya Neo Clasik Modern. Bangunan panjang 30 M, tinggi ruangan dalam 12 M, lebar 14 M, sementara tinggi menara 22 M. Dapat menampung 300 anggota jemaat. Interior gereja ini dengan jendela yang diberi kaca berwarna jenis staned glass dengan lantai keramik warna warni yang disusun dalam bentuk mozaik, sehingga dinilai sebagai gereja yang berlantai indah di Indonesia.

Dari catatan yang ada, baik kaca, lantai keramik maupun lonceng gereja, semuanya di datangkan dari Negeri Belanda. Dalam kompleks gereja ini diperlengkapi bangunan-bangunan untuk pendidikan agama dan sekarang ini memiliki sekolah semenjak TK sampai SMU.

Jauh sebelum tahun 1926, di tempat yang sama telah ada bangunan darurat untuk gereja yang dipimpin oleh seorang Pastor yang didatangkan dari Negeri Belanda. Dalam catatan sejarah keberadaan Kumpeni Belanda di Aceh, Pastor yang bernama Verbrak ini telah mengabdi selama 30 tahun dalam suasana perang Aceh dan ikut sebagai Imam Tentara ke berbagai lokasi medan tempur.

Ketika tulisan ini diturunkan (tahun 2000, -red), Gereja Katholik berlambang ayam jantan ini dipimpin oleh Pastor Ferdinando Severi berkebangsaan Italia. Ferdinando adalah petinggi Gereja Katholik Banda Aceh yang ke 17 semenjak Pastor Augustinus Huijbregts tahun 1926 tersebut.

Metro Market

Gedung tua lainnya dan barangkali tidak banyak yang mengetahui riwayatnya yang telah mencapai 100 tahun ini, adalah yang sekarang dijadikan sebagai market mini Metro terletak di ujung Jalan Diponegoro. Yang mencemaskan adalah akan nasib gedung ini karena terbetik khabar yang kalangan Balai Kota akan merestui untuk dibongkar dan menggantikan dengan bangunan moderen untuk sebuah super market. Gedung ini bentuknya memang sudah kuno dan ada yang merasa sudah menjadi limbah di tengah bangunan-bangunan moderen tanpa mau tahu akan usianya yang telah 100 tahun dan telah banyak jasanya dalam perkembangan negri ini.

Semasa perang kemedekaan 1945-1949 gedung milik percetakan Belanda ini dialihkan menjadi Percetakan Negara RI sampai tahun 1960-an, sebelum dibangun gedung baru Percetakan Negara RI di sampingnya. Percetakan tersebut dengan peralatan yang kuno jika dibandingkan dengan sekarangi ini telah mencatat sebuah sejarah ketika Pemerintahan Darurat RI antara 1945-1949. Disinilah dicetak uang negara yang bernama ORI (Oeang Repoeblik Indonesia).

Gedung tua yang sekarang sebagai supermaket mini tersebut, pertama dibangun tahun 1900 berbentuk rumah biasa sebagai cabang percetakan swasta Belanda "Deli Courant" yang berpusat di Medan. Kemudian dikembangkan dengan membangunnya lebih besar lagi seperti yang ada sekarang. Percetakan yang tentunya mempergunakan peralatan kuno diberi nama "Atjeh Drukrij" yang oleh lidah orang Aceh disebut seenaknya sebagai Aceh Dokree. Percetakan ini menerbitakan sebuah surat kabar bernama "Atjeh Newsblad". Karena menyusun leternya satu-satu dengan tangan (handzet) maka koran Belanda ini terbit 1 kali dalam 2 minggu. Ketika pendudukan Jepang (1942-1945) percetakan ini menerbitkan surat kabar bernama "Atjeh Shinbun".
Setelah Jepang angkat kaki, pemuda-pemuda Indonesia ketika itu anatara lain A. Hasjmy, Amelz, Matu Mona, Twk. Hasyim SH, Talsya dll menerbitkan surat kabar "Semangat Merdeka". Di masa pemerintahan darurat itulah dicetak digedung tua ini uang negara sebagai tanda pembayaran yang syah, sebagai membuktikan bahwa negara Indonesia itu memang resmi ada.

Akan tetapi ada beberapa bangunan di Banda Aceh yang berusia di bawah 70 tahun, milik masyarakat, tapi memilik nilai sejarah ketika perang kemerdekaan 1945-1949. Sayang bangunan-bangunan tersebut karena milik pribadi, bukti- bukti sejarah tersebut hanya tinggal dalam catatan-catatan lama. Sedangkan bangunannya telah dibongkar. Misalnya "Hotel Central" terletak di Jln. Mohd. Jam. Di sana sekarang telah berdiri sederetan bangunan Ruko. Di aula hotel kecil milik seorang Tionghoa ini sering para tokoh-tokoh pejuang Aceh mengadakan rapat-rapat untuk mengatur pemerintahan darurat di Aceh. Begitu juga gedung "Sabang Coy", bersebelahan dengan bekas gedung PMABS di ujung Jln. Diponegoro. Tempat ini pernah dijadikan markas para pemuda pejuang perang kemerdekaan untuk mengatur strategi untuk mara ke Foront Medan Area. Sekarang ini telah berdiri di sana sederetan bangunan Ruko.

Kemudian ada sebuah bangunan lain yang kini ternyata tersendat dalam pengembangan dan pemugarannya yaitu "Atjeh Hotel". Walau bangunan ini adalah milik swasta, tapi punya nilai sejarah dalam membangun Republik Indonesia. Hotel bergaya Belanda dengan aula dan bar yang luas seperti kebanyak gaya tempo doeloe pernah dijadikan ruangan terhormat menyambut kedatang Presiden Soekarno tahun 1947. Dari ruangan ini lahir ide kaum saudagar Aceh untuk menghadiahkan sebuah pesawat terbang untuk membantu perjuangan Indonesia mempertahankan Proklamasi 1945. Konon pesawat jenis Dakota buatan Daouglas AS itu adalah cikal bakal armada angkutan udara Indonesia "Garuda" sekarang ini.

Transportasi

Pada masa Belanda dahulu untuk angkutan murah dalam kota dipergunakan kenderaan sado (delman) yang dalam bahasa Aceh disebut kaha. Semenjak masa perang Aceh dahulu kereta kuda ini telah ada. Konon Teuku Umar keluar masuk kota untuk mengunjungi isterinya yang lain dan beberapa kenalannya orang Cina di Peunayong mempergunakan kaha.

Karena serdadu Belanda diajarkan tatakrama untuk tidak menyinggung hati orang Aceh terutama jangan menggangu kaum wanita, maka Teuku Umar yang jadi buron Belanda itu sering menyamar memakai busana wanita dan menumpnag kaha/sado ke dan keluar kota. Disetiap pos penjagaan dia bisa lolos, karena para serdadu begitu melihat ada penumpang wanita, mereka cukup hormat dan tidak banyak periksa. Halte sado sampai Indonesia merdeka antara lain di mulut Jalan Perdagangan di sisi Masjid Raya, di Jln. Merduati, di Stasiun Kereta Api (sekarang sudah jadi halaman Masjid Raya) dan di dekat Rumah Sakit Kuta Alam.

Sado Banda Aceh masih difungsikan sampai akhir tahun 1960. Armada sado ternyata mengundurkan diri dari gelanggang ketika muncul kenderaan murah lainnya yaitu beca. Kemunculan beca di Banda Aceh memang langsung beca bermotor seperti sekarang ini. Tidak pernah ada beca dayung.

Akibat tidak ada lagi kenderaan sado yang ditarik oleh kuda ini, warga Banda Aceh tak pernah lagi melihat jenis hewan kuda yang dulu cukup banyak. Kasihan juga yang anak-anak Banda Aceh terutama yang usia muda agak terheran-heran melihat kalau ada sekali-sekali muncul hewan kuda yang datang dari Takengon.

Begitu juga anak-anak-anak Banda Aceh tidak tahu bagaimana sebenarnya kenderaan kerat api itu. Karena si "Kuda Besi" angkutan jarak jauh ini entah setahu bagaimana lenyap dari peredaran. Padahal menurut beberapa pengakuan, pemasukan dari sektor angkutan kereta api di Aceh yang instansinya disebut "Djawatan Kereta Api Atjeh" (DKA) cukup menggiurkan sampai-sampai dapat menutup kerugian beberapa usaha perkeretaapian negara di berbagai daerah di Sumatera.

Begitu juga semenjak tahun 1950 sampai awal 1980 untuk hubungan jarak dekat seperti kenderaan labi-labi sekarang ini, ada juga pelayanan transportasi dengan mobil berbadan lebar yang karoserinya empat persegi seperti kotak sabun dan memiliki tempat duduk dari papan dideretkan melintang semenjak dari bangku sopir sampai ke pintu belakang. Armada ini terdiri dari Perusahaan Motor Lhoknga (PML), Perusahaan Motor Aceh Besar (PMAB), Perusahaan Motor Olele (PMO), Perusahaan Motor Darmajaya dan Ampera.

Stasiun jenis angkutan ini yang disebut pelabuhan berada di tanah kosong di depan Percetakan Negara atau depan leretan Warung Aman Kuba. Sekarang bekas stasiun tersebut telah dijadikan semacam taman kota. Dalam tahun-tahun 1950-an, muncul pula armada bus antara lain ATRA, Nasional, PMTOH dan PMABS. Dua yang terakhir ini melayani pantai Barat sampai ke Bakongan.

Bus-bus jarak jauh menginap di depan bangunannya sendiri. Para penumpang langsung dijemput antar oleh bus ke tujuannya. Baru tahun 1970 muncul sebuah terminal wajib kumpul bus jarak jauh dan wajib turun penumpang di Seutui, lokasi termina sekarang. Pada masa Belanda jalan darat ke pantai Barat jurusan Meulaboh-Tapaktuan, Bakongan sampai Trumon dibuat tahun 1928. Lewat laut sampai tahun 1956 dengan kapal milik perusahan Belanda yang bernama Konijnklike Pakertpart Matschapij (KPM). Untuk kenderaan pribadi, sekitar tahun-tahun 1920-an, warga lebih banyak jalan kaki atau naik sado. Hanya orang-orang tertentu yang mampu beli kereta angin (maksudnya sepeda-Pen) Setelah kemerdekaan semenjak 1950 sampai 1960 di jalan-jalan di Kutaraja berseliweran sepeda dan satu-satu mobil pribadi, semirip suasana lalu lintas di kota-kota negara Cina dan Vietnam yang didominasi oleh yang didominasi oleh sepeda.

Pada masa-masa tersebut terlihatlah status keberadaan seseorang dinilai dari merek sepedanya. Yang paling banyak bermerek Valuas dan Seko. Sementara merek Raleigh, Fongers, Gazzele dan Philips dimiliki oleh para toke-toke, dan warga berduit. Lebih-lebih lagi pemilik jenis sepeda bermerek kelas atas tersebut akan bergengsi lagi kalau sepedanya dilengkapi dengan rem tromol yang mengeluarkan bunyi gesekan kalau berhenti. Ditambah lagi sepeda dilengkapi dengan gigi. Maksudnya ada perseneling yang kalau didayung akan mengeluarkan bunyi tik...tik...tik. Bahkan anak-anak pejabat tertentu, terutama yang ceweknya dibelikan kenderaan yang disebut mobilette.

Ternyata tak lebih semacam sepeda yang diberi bermesin tempel yang dikenal juga dengan sebutan sepeda kumbang. Barangkali inilah lebih kurang beberapa catatan ringan yang kita kumpulkan untuk menyambut usia Banda Aceh yang ke-795 (tahun 2000, -red). Kota yang cukup tua tanpa memiliki kebanggaan peninggalan lama seperti Malaka, Bengkulu, Makassar, Sunda Kelapa dll sebagai negeri terkenal di abad-abad lampau yang tidak pernah mencantumkan embel-embel bandar, seperti Banda (Bandar) Aceh kita ini. Bukan main. Untuk ini, sekali lagi wallahualam bissawab.

BAGIAN 2

Kita tidak tahu apakah ketika tahun 1205 M sebagai awal ditetapkan lahirnya kota Banda Aceh, apakah nama tersebut memang Banda Aceh (Bandar Aceh) atau ada yang lain. Kalau direnung-renungkan, kiranya jauh lebih tua Banda Aceh dengan Malaka, atawa pusat kerajaan Islam Moghul di Delhi India maupun beberapa kesultanan di Indonesia Bagian Timur. Tapi mana sisa-sisa sebuah kota yang berpredikat bandar itu?

Tanpa mengecilkan arti benar tidaknya ada sebuah bandar hebat ketika itu, siapapun mengakui yang tahun 1205 M itu adalah munculnya kerajaan Aceh Darussalam dengan Sultan pertamanya Alaidin Johan Syah. Mungkin saja ibu kota kerajaan itu memang di Banda Aceh sekarang yang jaraknya 5 KM dari lalulintas samudera ketimbang sebuah kota sebagai bandar pelabuhan seperti Malaka, Makassar dll, yang juga muncul di abad-abad lampau.

Sebagian kita barangkali telah terbawa arus berimajinasi dari orang-orang tertentu zaman kini tentang adanya sebuah kota berstatus bandar pelabuhan yang sibuk. Imajinasi-imajinasi demikian membuat kita menerima saja akan sesuatu, sebagai meyakinkan bahwa kita juga memiliki sebuah kota macam Malaka, Palembang, Bengkulu dll lagi. Sekali lagi tanpa mengecilkan arti keberadaan sejarah yang pernah melintas di negeri ini, kita cukup bangga dengan runutan para Sultan dan Sultanah yang memimpin Kerajaan Aceh Darussalam yang memang jelas ada dan bahkan telah berpengaruh sampai ke tingkat internasional pada abad-abad lalu tersebut.

Dari berbagai catatan, diperoleh data tanpa mengecilkan arti Banda Aceh yang telah berusia lebih 7 abad ini, tentang lebih mencuatnya beberapa pelabuhan di Pantai Barat yang berhadapan dengan Samudera Hindia, tanpa predikat bandar, semenjak dari Negeri Barus sampai ke kawasan Aceh Besar. Dalam peta-peta kuno jalur pelayaran para nakoda asing, tercantum nama-nama pelabuhan yang pada jadwal-jadwal tertentu mereka wajib singgah untuk membeli ataupun membarter berbagai jenis rempah-rempah. Baiklah kita telusuri peta kuno para pelaut asing tersebut seperti yang diungkapkan dalam buku Aceh Sepanjang Abad oleh Mohd.Said. Adalah pelabuhan-pelabuhan tersebut berikut ini dalam ejaan lidah pelaut asing, yakni: Barus, Tepus, Singkli (Singkil), Trumon, Mukki (Meukek), Labonarge (Labuhanhaji), Talafao (Lhokpaoh), Susu/Pulo Kiyu (Susoh/Pulau Kayu), Qualah Batto (Kuala Batee), Rigas (Rigah), Kluwang (Keuluang) dan Anambelu (diperkirakan pelabuhan Inong Balee-Pen).

Mereka, pelaut-pelaut asing itu tidak mencantumkan adanya Sibolga, Tapaktuan, Meulaboh, Calang, maupun Banda (Bandar) Aceh. Lagi-lagi tanpa mengecilkan arti sebuah nama, semua orang mengakui bahwa keberadaan Kerajaan Aceh Darussalam dengan petinggi pertamanya Sultan Alaidin Johan Syah memang telah ada semenjak 795 tahun lalu. Dengan Perda Aceh No. 5/1988, ditetapkanlah tanggal keberadaan Banda Aceh bertepatan dengan hari Jumat, 1 Ramadhan 601 H, atau 22 April 1205 M. Namun apakah ada tidaknya sebuah bandar (kota pelabuhan) ketimbang ibu kota sebuah kerajaan yang berwibawa, para peneliti sejarah jugalah yang mampu mengungkapkannya. Wallahualam bissawab.

Cuma 6 Sekolah Dasar

Setelah penyerahan kedaulatan 1949, Banda Aceh yang disebut sebagai Kutaraja hanya memiliki 5 Sekolah Dasar (SD) yang ketika itu disebut Sekolah Rakyat (SR). Menurut salah seorang murid dari salah satu SD tersebut, Din Pawang Leman (68) seorang tokoh masyarakat dari Leupeung, lokasi SR tersebut masing-masing: SR seleretan SMU 1, sekarang SD 7 dan 9. SR di Jln Mohd Jam, sekarang pertokoan antara lain Supermarket Yusri.SR di Lampoh Jok Peuniti, sekarang SD 3 dan 42. SR di dekat Gudang Preman (Jln. T. Nyak Arief) depan Kantor DOLOG, sekarang SD 4 dan 15. SR di Kampung Jawa, sekarang sudah dibongkar. SR Neusuh, sekarang bangunan baru sebagai SD 32.

Tahun 1950 muncul satu-satunya Sekolah Rendah Islam (SRI) Al Qariah berlokasi di belakang Masjid Raya Baiturrahman. Tahun-tahun berikutnya muncul satu-satunya di Aceh yaitu SMA Negeri (SMU 1 sekarang). Dan Sekolah Guru Bantu (SGB) dan Sekolah Gura Atas (SGA) menumpang pada ruang belakang Gereja Pante Pirak. Menjelang tahun 1956 muncul gedung baru untuk SGA berlantai 2 sederetan Kolam Renang Pante Pirak sekarang.

Peunayong dan Gudang Pereman

Sebelum Perang Dunia II, kalau anda keluar melancong sore dan pulang malam, ternyata ketahuan dari kawasan Peunayong di seberang Kali Aceh, jelas anda dicurigai sebagai baru pulang plesir dengan pelacur. Ternyata sarang si 'kupu-kupu malam' ini memang terkenal di kawasan Peunayong ketika itu. Beberapa pengakuan orang-orang lama, ketika itu obat penyakit perempuan (maksudnya Sipilis/ Raja singa- Pen) belum ada. Pasien-pasien yang diterima di Rumah Sakit Kuta Alam (sekarang Rumah Sakit Tentara) adalah si Hidung Belang yang terkena sipilis. Satu-satunya pertolongan yang mampu diusahakan dokter adalah memasukan slang karet ke lobang batang alat kelamin lalu menyemprotkan sejenis cairan. Dan si sakit sudah tentu berteriak-teriak kesakitan. Dengan pengobatan demikian ada yang sembuh namun tidak jarang yang tak mempan meninggal digerogoti penyakit perempuan tersebut.

Dan apa pula yang disebut "Gudang Preman" itu? Maksudnya kalau ke jurusan Jln. T. Nyak Arief sekarang ini, dulu disebut Jln Krueng Raya atau Jln Gudang Preman. Jalan itu tidak sepanjang Jln. T. Nyak Arief sekarang, hanya sampai batas kota di Simpang Jambo Tapee. SimpangJambo tapee itu sendiri dikatakan sebagai daerah pinggiran kita. Di sini ada lapangan ternak lembu perah milik keluarga India pakai sorban. (maksudnya etnis orang India Sikh/Benggali-Pen.) Kalau lewat Jambo Tapee ke arah Lamnyong atau Krueng Raya, di kiri kanan jalan tanpa aspal itu hanya ada sawah, rawa-rawa serta belukar. Jurusan jalan Gudang Preman yang disebut tadi, dulunya cukup suram di malam hari dan bahkan sering dijadikan tempat menunggu seseorang yang tak disukai untuk dibunuh.

Sebelum tahun 1930-an, Kutaraja memang dalam keadaan remang remang di malam hari. Peneranganjalan hanya dengan lampu minyak yang dimasukan dalam kotak kaca (lentera) yang dipancangkan di tempat-tempat tertentu. Sementara toko-toko dan rumah-rumah orang kaya dan ambtenaar Belanda memakai lampu Strom King (Petromax) ukuran besar yang semprongnya macam jantung pisang. Jadi lampu yang diisi angin dengan pompa sepeda itu disebut juga lampu jantung.

Ternyata yang disebut Gudang Preman itu karena di salah satu sisi jalan yang sepi ini dulunya ada sebuah bangsal bekas gudang yang lokasinya kira-kira di belakang SD 4-15 sekarang. Tidak ada hubungan Gudang Preman dengan ke angkeran Jln. T. Nyak Arief itu. Preman yang dimaksud jangan disamakan sebagai sebutan untuk preman sekarang, sebagai tukang pukul, perampok maupun pencopet.

Menurut orang-orang lama, yang disebut preman itu dalam ejaan Belanda frijman. Atau dalam ejaan Inggris, freeman, adalah pria-pria yang tidak memiliki lapangan kerja tetap. Tepatnya "pria bebas" bahkan kaum penganggur pun dimasukan dalam jenis preman. Di bekas gudang itulah mereka berkumpul dan tinggal agar mudah ditemukan oleh para pembutuh tenaga kerja musiman. Kebanykan perman-preman itu terdiri dari perantau-perantau luar Aceh, semisal Jawa dan orang-orang Indonesia Bagian Timur. Bahkan pemerintah Belanda memberi mereka sekedar tunjangan.

Ke Kandang Babi, apa pula itu?

Tempo doeloe, kalau mau ke Jalan Teuku Umar arah ke Seutui orang akan mengatakan ke Kandang Babi. Ternyata dulu itu, semenjak Simpang Tiga Mata Ie sampai ke Taman Sari Baru atau Jln. Batee Kureng sekarang, lokasinya terdiri dari hutan pisang dan di dalam kebun pisang tersebut terdapat pemukiman kumuh, perkampungan orang Cina, khusus memelihara babi.

Sampai tahun 1980, karena semenjak Simpang Jam sampai lewat Simpang Tiga Mata Ie telah berkembang menjadi kota, sisa-sisa peternak babi tersebut masih ada disekitar itu, agak masuk ke dalam dari Jembatan Goheng (sekarang Gedung SGO). Dan kemudian peternakan babi ini pindah ke Ujong Batee arah Krueng Raya, 15 Km dari kota. Begitu juga di jalan arah ke Seutu ini, ada satu kompleks yang disebut Kampung Keling, yang berseberangan dengan Kampung Blower (Sekarang Sukaramai).

Sekarang ini di atas tanah kompleks Kampung Keling tersebut dibangun beberapa bangunan sebagai Taman Budaya Aceh. Yang disebut Kampung Keling itu terdiri dari sebaris kedai kayu berloteng sebanyak 16 pintu yang ditunjuk Belanda untuk hunian orang-orang India yang berprofesi sebagai laundry. Namun lokasi untuk etnis India lainnya berlokasi di Kampung Keudah. Di sini mereka memiliki rumah peribadatan. Tamil Temple untuk India Tamil dan Sikh Temple untuk India Sikh/Banggali.

Tempat hiburan

Beberapa orang lama mengatakan di Kutaraja sebelum Perang Dunia II memiliki 2 gedung kumedi gambar. Maksudnya gedung bioskop, masing-masing Deli Bioscope dan Rex Bioscope. Sebelum masuknya listrik ke Kutaraja, (kira-kira sebelum tahun 1930-an), pijar tembak bayanganfilm ke layar di pergunakan sinar lampu karbid yang sudah tentu hasilbayangannya tidak setajam proyektor listrik. Begitu juga filmnya yang hitam putih masih bisu dan proyektornya memiliki engkol untuk memutar film dengan tangan. Kalau tangan pegal tentu putarannya tidak tepat, lalu ditukar dengan tangan lainnya. Karena filmnya bisu, maka di barisan depan duduk sederetan pemain musik sebagai pengisi kebisuan itu. Baru kemudian Kutaraja kedatangan listrik dan sejalan dengan itu film pun sudah ada suara. Dua gedung bisokop yang dimaksud sekarang ini adalah Bioskop Garuda (Deli Bioscope) dan Rex, hanya tinggal hamparan pertapakan gedungnya yang dimanfaatkan oleh penjaja makanan di malam hari di kawasan depan Hotel Medan sekarang.

Setelah kemerdekaan di samping Bioskop Garuda yang penontonnya tingkat menengah ke atas, maka di Peunayong muncul satu bioskop namanya Tun Fang yang sekarang ini bernama Bisokop Merpati. Rumah-rumah hiburan kebanyakan didatangi oleh para petinggi Belanda yaitu disebut Kamar Bola yang dikemudian hari dikenal dengan BalaiTeuku Umar. Sayang bangunan yang berarsitek tempo doeloe itu yang memiliki ruangan yang luas telah dibongkar dan di sana berdiri seleretan pertokoan antara lain Sinbun Sibreh.

Dan tempat hiburan lainnya yang banyak dikunjungi oleh orang biasa dan anak-anak kapal adalah Taman Sari. Dulu sebagian orang gampong menyebutnya Taman Putroe Bungsu, karena di salah satu sisi taman ada sebuah patung porselen wanita cantik. Sampai sekarang di sana masih ada sebuah bangunan bundar bergaya lama sebagai pentas bermain musik, terutama di malam minggu.

Tempat rekreasi di luar kota ketika itu sangat sedikit, seperti Lhoknga, Mata Ie dan pantai Ulheelheue dimana khusus untuk orang-orang Belanda disediakan tempat mandi laut yang dipagari besi agar jangan diganggu oleh ikan buas berikut kamar mandi dan kamar pakaian. Tempat rekreasi Ulheelheue tersebut porak poranda ketika Kutaraja dilanda gempa besar sekitar tahun 1930-an.[]


* Almarhum adalahh seorang Penyair, Dramawan, dan Budayawan Aceh 

Note: Semua gambar atau foto dalam tulisan ini adalah hak cipta dari pemiliknya atau sumber awal. Untuk identifikasi bisa ditelusuri lewat fitus images.google.com.
Posting Komentar