Tampilkan posting dengan label Budaya. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Budaya. Tampilkan semua posting

Punk, Anarkisme, dan Ideologi


Di awal tahun 70an the Beatles, Rolling Stones, dan Led Zeppelin menjadi raja di semua panggung musik dunia. semua remaja saat itu ingin menjadi begian dari musik dan kehidupan mereka. tapi di london, inggris tempat semua jenis musik itu dilahirkan terdapat beberapa remaja yang sudah bosan dengan musik rock and roll ala the beatles dan rolling stones. di inggris band-band seperti sham69, the business, dan cock sparrer bernyanyi tentang hidup di jalanan kota london. 
Di jalanan itulah musik punk mulai menemukan bentuknya. nama reality punk atau street punk dipakai sebagai indentitas genre musik baru itu. pertengahan 70an istilah punk rock mulai merebak di klub-klub musik di inggris dan amerika. adalah ramones, sex pistols, the damned, dan the clash yang menjadi pelopor aliran ini. musik punk yang anti-establishment dengan chord-chord yang sederhana diadaptasi dari struktur musik garage rock dari tahun 1960-an.
Punk merupakan sub-budaya yang pada awalnya selalu dikacaukan oleh golongan skinhead. namun, sejak tahun 1980-an, saat punk merajalela di amerika, golongan punk dan skinhead seolah-olah menyatu, karena mempunyai semangat yang sama. punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik.

Perhiasan dalam Pakaian Adat Aceh

Oleh H. Harun Keuchik Leumiek

SETIAP suku di dunia ini punya pakaian adat tersendiri. Itu menjadi ciri khas yang membedakan antara satu suku dengan lainnya. Misalnya pakaian adat suku Jawa berbeda dengan pakaian adat suku batak atau dengan pakaian adat orang Minang. Bagaimana pula bentuk pakaian adat Aceh. Pakaian adat Aceh baik yang digunakan kaum perempuan atau kaum lelaki, memiliki bentuk sendiri meskipun coraknya sama. Yang membedakannya adalah atribut, baik itu pakaian adat resmi maupun yang digunakan keseharian.

Untuk pakaian adat yang dikenakan kaum laki-laki berwana hitam. Warna hitam bagi masyarakat Acehbermakna kebesaran adat. Maka bila seseorang mengenakan baju dan celana hitam berarti orang tersebut dalam pandangan masyarakat Aceh sedang memakai pakaian kebesarannya. Ini bedanya dengan masyarakat di daerah lain, bila memakai pakaian warna hitam, itu bisa berarti mereka sedang berkabung karena sesuatu musibah yang dialaminya.

Di Aceh, jika seorang pengantin laki-laki Aceh (linto baro), secara adat ia diwajibkan memakai pakaian warna hitam dan tidak dibolehkan memakai pakaian warna lain. Begitu juga jika akan menghadiri upacara-upacara kebesaran resmi lainnya, kaum laki-laki Aceh diharuskan mengenakan pakaian berwarna hitam. Kecuali bila menghadiri acara-acara yang tidak resmi, itu bisa saja mengenakan pakaian warna lain.

Lintasan Sejarah Serunee Kalee

Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh's Grand M...Image via Wikipedia
Abad VII M Islam sudah berkembang di Aceh, seorang ulama dari Persi, Syech Abdullah membawa alat musik yaitu “Serunee Kalee” untuk mengajak para masyarakat belajar ilmu agama islam.

Selanjutnya pada abad X seorang ulama besar : Syech Abdul Kadir Zaelani dari Arab / Iraq ke Aceh untuk mendampingi “Tuan Di Kandang Syech Bandar Darussalam” yang bernama Mahdum Abi Abdullah Syech Abdul Rauf Bagdadi untuk memperluas ilmu agama dan ilmu pengetahuan di Aceh dengan membawa Seni Rapa’I dan Debus asal Persia.

Serunee Kalee berkembang menjadi alat untuk penyambutan dan memuliakan tamu kenegaraan yang datang ke Kerajaan Bandar Aceh Darussalam. Serunee Kalee masih digunakan dalam acara adat-adat pernikahan, penyambutan tamu dan berkesenian di tengah masyarakat Aceh hingga saat ini.

Facebook Dituding Merusak Bahasa Thailand

Facebook dan Twitter diduga menjadi penyebab mengapa kemampuan berbahasa pelajar Thailand makin lemah. Karena itu, Kementerian Budaya Thailand menyarankan agar para pelajar kembali ke tradisi menulis surat.

Survei nasional yang dilakukan oleh Kementerian Budaya menemukan bahwa empat dari sepuluh anak muda Thailand tak tau bahwa bahasa Thailand yang baik dan benar sebaiknya digunakan dalam suasana formal.

Sekitar sepertiga anak muda Thailand tidak peduli dengan kesalahan eja, singkatan, dan kesalahan gramatikal yang biasa terjadi dalam pesan pendek atau percakapan media sosial.

"Kita harus melindungi bahasa nasional kita. Kalau tidak seorangpun yang menganggap bahasa yang baik dan benar itu penting, maka kita akan musnah," kata Menteri Kebudayaan Nipit Intarasombut, Kamis, 23 Juli 2010, saat mengumumkan hasil survei.

Budaya, Seks, dan Zona Mabuk Internet

Video porno mirip selebriti Ariel-Luna ataupun Ariel-CutTari beredar di dunia maya tanpa batas sosial, budaya bahkan usia. Inikah globalisasi media internet yang kebablasan?

Sepekan ini, pemberitaan di tanah air diramaikan oleh beredarnya video porno mirip selebriti Ariel Peterpan, Luna Maya dan Cut Tari. Hanya dalam hitungan hari, video yang menghebohkan ini telah beredar luas ke seluruh pelosok negeri bahkan ke mancanegara. Jaringan internet yang membaik dan terus berkembang, menjadi katalisnya.

Don Tapscott dalam bukunya yang berjudul 'Growing Up Digital: The Rise of The Net Generation' (1998), menganggap kemunculan internet sebagai ruang publik yang menawarkan berkah bagi perwujudan partisipasi semua orang. Internet telah menjadi ruang maya untuk membangun masyarakat yang dianggap demokratis atau sebuah cyberdemocracy.

Ia pun menyoroti kebangkitan sebuah generasi baru yang dikenal sebagai 'the net generation' dengan kebiasaan dan karakter tersendiri. Dijelaskan juga mengenai pengaruh revolusi jaringan internet dengan budaya digital terhadap kehidupan.

Orang-orang yang berkomunikasi lewat jaringan elektronik tidak terlalu mementingkan perbedaan posisi mereka dan cenderung lebih terbuka dalam mengeluarkan pemikirannya, bahkan seringkali tanpa ada sekat. Demikian ujar Thomas A Stewart, kepala Pemasaran dan Pengetahuan Officer Booz & Company, sebuah perusahaan konsultan manajemen global.

Sebagian organisasi merespons perkembangan ini, dimana e-mail, facebook, twitter, dan jejaring sosial lainnya, dipandang sebagai peristiwa perubahan kebudayaan yang besar yang berpengaruh bagi cara kerja dan sistem pengambilan keputusan organisasi mereka.

Sedangkan Dicky Andika, S. Sos, M.Si, seorang pengajar mata kuliah Komunikasi Antar Budaya sempat mengatakan, wacana-wacana kebudayaan kini tengah tumbuh ke arah titik ekstrem, ke jurusan yang melampaui kondisi yang normal, yang bisa diterima akal sehat. Berbagai wacana kebudayaan pun mengalami pergeseran yang mendasar.

Wacana seksualitas telah berkembang jauh melampaui sifat alamiah seksual itu sendiri. Fenomena video porno baik yang mirip selebritis, atau kalangan pemuda-pemudi biasa, yang terumbar bebas di dunia maya umpamanya.

Dimensi-dimensi seksualitas dan tubuh pun perlahan (tapi pasti) bergeser dan mulai kehilangan kesakralannya. Pada titik ini, eksploitasi tubuh menjadi sebatas instrumen display dan benda komoditi di pentas kebudayaan pop.

Globalisasi budaya lewat internet telah menyebabkan lenyapnya batas-batas sosial, kategori sosial, dan identitas sosial. Cyberspace atau ruang maya yang tercipta dalam jaringan internet menjadi sebuah ruang yang tanpa identitas, tanpa tuan, atau bahkan tanpa nilai.

Dalam ruang maya internet, batas sosial antara dunia anak-anak dan dunia orang dewasa lenyap di tangan situs-situs porno, video biru, blue film, atau cyberporn. Ini terjadi karena perkembangan media informasi (televisi, video, komputer, dan internet itu sendiri) telah bersifat sangat transparan.

Artinya, setiap informasi yang sebelumnya secara sosial, moral, dan religi dianggap terlarang, tabu, dan haram, kini semuanya dapat diperoleh begitu gampang. Pada akhirnya, internet berubah menjadi 'warung libido elektronik' di dunia maya yang memicu hasrat dan fantasi seksual dengan karut-marut informasi seks yang kacau nilai. Meski ada pula yang pro pornomedia. Keakraban dengan sesuatu yang alami dan nyata (real) kini telah berganti dengan keeratan sesuatu yang tak nyata, virtual, dan semu.

Kapan terakhir kita melihat pemandangan anak-anak bermain gatrik, galah atau permainan tradisional lain yang akrab dengan alam? Anak-anak lebih akrab dengan game tentang sepakbola, daripada bermain sepakbola langsung di lapangan terbuka. Kawula muda lebih mahir mengunduh video porno idolanya, ketimbang menciptakan simfoni musik gamelan.

Wih! Ada Kontes Waria 2010 di Aceh

Oki Tiba/ACEHKITA.COM
Puluhan waria di Provinsi Aceh ikut serta dalam pemilihan Duta Sosial dan Budaya Aceh 2010 yang juga sebagai ajang silaturrahmi waria di Aceh.

"Kegiatan ini sebagai ajang silaturrahmi kaum waria dan memilih Duta Sosial dan Budaya Aceh," kata ketua panitia, Jimmy di Banda Aceh, Minggu.

Dalam kontes yang digelar di aula RRI pada Sabtu (13/2) malam itu terpilih sebagai Duta Aceh yaitu Angga alias Zifana Lestisia (19) asal kota Lhokseumawe.

Selain untuk mempererat silaturrahmi kaum waria, ajang tersebut juga untuk menghilangkan stigma negatif masyarakat terhadap kaum waria tersebut.