3 Situs Andalan untuk Mencari Teks Film

Koleksi film dalam bentuk digital yang disimpan di hardisk kadang tak selalu dilengkapi dengan subtitle yang diinginkan. Padahal, subtitle bisa berguna untuk menikmati film lebih lanjut, mulai dari memahami alur cerita hingga menangkap kata-kata sulit yang mungkin diucapkan pemainnya.

Untungnya, ada situs-situs internet yang menyediakan subtitle untuk di-download kolektor film. Berikut adalah tiga di antaranya:

AnySubs.com


AnySubs menyediakan file teks untuk film dengan format DivX secara gratis. Di situs ini pengguna bisa melihat-lihat koleksi subtitle yang ada berdasarkan urut abjad maupun melihat Top 100 judul yang paling banyak di-download.

Kebanyakan file di AnySubs menggunakan format SRT. Situs itu menyediakan pencarian subtitle berbagai bahasa, termasuk Bahasa Indonesia. Namun koleksinya akan tergantung dari keaktifan komunitas karena kebanyakan subtitle yang ada disumbangkan oleh komunitas.

Popularitas Ba’asyir Makin Menanjak di Facebook

Sebanyak 30.289 pendukung meramaikan halaman ‘Freedom and Support Ustadz Abu Bakar Ba’asyir’ di Facebook. Bahkan, situs ‘khusus’ pun telah hadir.

Halaman dukungan pada Abu Bakar Ba'asyir itu berisi notes menyangkut ulama dari Solo itu. Tulisan pertama dibuat pada 9 Agustus 2010 dan berisikan data pribadi sekaligus sejarah kehidupan Ba’Asyir.

Pendukung Ba’asyir datang dari kalangan yang beragam. Tidak hanya beberapa penganut agama Islam taat, tetapi juga individu yang memiliki pandangan berbeda. Beberapa remaja tampak mendukung dengan memberikan komentar sederhana.

Di situs khusus pendukung Ba’asyir sendiri, http://freeabb.com/, banyak pengguna internet yang menunjukkan dukungan lewat komentar di tulisan atau video Ba’asyir. Situs ini cukup aktif terlihat dari tulisan terakhir yang dibuat tertanggal 23 Agustus 2010.

2015, 50% Pengguna di Asia Pakai Smartphone

Menurut lembaga riset dan konsultasi Frost and Sullivan, smartphone akan menguasai lebih dari setengah pasar di Asia pada tahun 2015 dengan estimasi penjualan mencapai 477 juta unit.

Diperkirakan Frost and Sullivan, pangsa pasar smartphone di Asia Pasific akan terus bertumbuh pesat hingga 54 persen pada lima tahun mendatang, dibandingkan lima persen per tahun 2009.

Tajamnya pertumbuhan penjualan smartphone akan mampu mendongkrak pendapatan para operator telekomunikasi. Karena, semakin meluasnya pasar smartphone, semakin besar pula permintaan pasar terhadap layanan data.

Seperti diketahui, smartphone (ponsel pintar) saat ini dikenal sebagai perangkat bergerak kelas atas yang dapat menyuguhkan akses data lebih cepat, seperti e-mail dan browsing, dibandingkan ponsel-ponsel biasa dengan fitur sama.

Indonesia 'Surga' Bagi Pengembang Aplikasi Mobile

Tingginya penetrasi kepemilikan ponsel di Indonesia membuat negeri ini menjadi tempat potensial bagi para pengembang aplikasi untuk memasarkan produknya.

Indonesia, hingga akhir tahun 2009 lalu, diketahui berada pada peringkat enam dunia sebagai negara dengan jumlah pengguna ponsel terbanyak, sekira 150 juta pengguna.

"Indonesia menjadi hotspot area bagi pengembang," ujar Andy Zain, pendiri Mobile Monday, di sela Kuliah Perdana bertema Peluang Industri Kreatif di Era Mobile Lifestyle di Universitas Multimedia Nusantara, Serpong, Tangerang, Senin (23/8/2010).

Dikatakan Andy, jika pengembang-pengembang Indonesia ingin bersaing dengan pemain besar, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Salah satunya adalah tidak membuat aplikasi yang berat dalam hal kapasitas maupun fungsi.

RIM: Minimal 100 Teman di Blackberry Messenger

Pertumbuhan pengguna Blackberry di Indonesia ternyata benar-benar marak. Hal ini terlihat dengan banyaknya pengguna Blackberry Messenger di Indonesia.

"Salah satu contoh adalah penggunaan aplikasi Blackberry Messenger. Orang Indonesia rata-rata memiliki minimal 100 teman di messenger kami. Selain itu, paling sedikit mereka bergabung dengan 15 grup," ujar Johan Kremer, Head of SEA Alliances RIM, di sela Kuliah Perdana bertema Peluang Industri Kreatif di Era Mobile Lifestyle di Universitas Multimedia Nusantara, Serpong, Tangerang, Senin (23/8/2010).

Ditambahkan Kremer, saking potensialnya, RIM pun memiliki tantangan besar untuk menghantarkan data ke pengguna dengan kapasitas seminim mungkin, meski distribusi data di Blackberry telah mengalami kompresi sedemikian rupa.

Facebook, Perusahaan Terfavorit untuk Bekerja

Facebook mengambil alih posisi Google sebagai perusahaan teknologi terbaik untuk bekerja. Perusahaan situs jejaring sosial asal Palo Alto, California tersebut meraih penghargaan dari Business Insider yang meriset pendapat karyawan perusahaan-perusahaan IT.

Karyawan Facebook melaporkan, perusahaan itu memang tidak memberikan kemewahan seperti perusahaan Silicon Valley lainnya seperti hidangan lezat ataupun kantor yang dilengkapi berbagai fasilitas hiburan. Akan tetapi Facebook menarik karena kebebasan yang diberikan perusahaan pada karyawan.

Tidak ada politik kantor, sedikit manajer kelas menengah yang menyebalkan, dan peluang untuk bekerja di divisi yang berbeda menjadi nilai plus bagi karyawan. Perusahaan itu juga dikenal memiliki ‘boot camp’ untuk mempercepat karyawan baru dalam beradaptasi dengan perusahaan.

“Karyawan di sini sangat cerdas tetapi rendah hati, membuat lingkungan kerja menjadi sangat mendukung untuk mengembangkan hal-hal baru,” sebut seorang karyawan yang disurvey, seperti dikutip dari AllFacebook, 5 Agustus 2010.

Pembunuh Facebook Google Mati

Google Inc akan mematikan Google Wave. Program yang disebut sebagai pembunuh Facebook itu memungkinkan orang chatting, berbagi file dan mengkolaborasi dokumen secara real time.

“Wave belum mencapai adopsi pengguna yang mungkin kita sukai,” kata senior vice president Google Urs Holzle dalam blognya.

Google mengatakan bahwa situs Google Wave akan tetap ada hingga akhir tahun dan teknologinya akan muncul di proyek Google selanjutnya. Sementara kodenya telah tersedia sebagai open source.

Google menjelaskan,”Kami tidak berencana untuk mengembangkan Wave sebagai aplikasi tunggal, namun kami akan menjaga situs ini setidaknya hingga akhir tahun ini serta menggunakan teknologinya untuk proyek Google lainnya.”

Internet Explorer 9 Beta is Due in September

According to Microsoft Chief Operating Officer Kevin Turner, Microsoft is getting ready to roll out IE version 9 in September. As per some leaked report, Microsoft is expected to release the Beta version in August. The Beta is supposed to feature more user interfaces. The Web Developers are keenly waiting for the new browser. There is a significant improvement of Internet Explorer 9 in comparison with Internet Explorer 8, with considerably improved standards compliance and functionality.

The new build that Microsoft released so far is mainly targeted for the Web Developers. It includes new Microsoft Java Script Engine and the new graphic subsystem, integrated with a home page full of test sites. There is no security or no Back button. The company released three platform previews to show the IE 9 engine. However, this is a very simple interface. Perhaps the company wants everybody to wait till the release. Microsoft didn't announce any Release date for the final version. But, the new browser is expected to be released in 2011.

Gmail Account Being Upgraded?

It seems that Google is on its way to revamp its Gmail account services. Although the company has not announced anything in this matter officially, a leaked screenshot of the internal version of the Gmail services used by its employees have pointed out a lot of differences from the current Gmail services of Google. The screenshot that was taken from Chromium OS bug tracker and was originally intended to point at a bug that exists within Google Chromium Operating service, has turned the attention of geeks towards the latest version of Gmail that is being used by the company's employees.

As per sources, the Google employees are the first to use any version of the company's services which it wants to introduce in the market. It is based on the feedback of its employees that the services are improved or modified to suit the best interest of the users. The changes that have been marked in the new Gmail account version are mostly design and navigational changes. However, all these are good changes that are being welcomed by Gmail account users.

Aplikasi Social Networking

Pengguna ponsel saat ini banyak mencari handset-handset yang memudahkan mereka memaksimalkan layanan data dari operator. Tren tersebut dipicu melesatnya penggunaan jejaring sosial. Tak heran, pabrikan merilis ponsel yang memenuhi kebutuhan tersebut.

Selain menyematkan situs social networking dalam handset, ada yang menambahkan aplikasi khusus untuk penggemar jejaring sosial. Misalnya, aplikasi Social Networking Sites (SNS) Manager yang bisa dipakai pengguna Facebook dan Twitter. Aplikasi tersebut hampir menyerupai aplikasi Facebook di BlackBerry dan Sony Ericsson. ''SNS Manager memudahkan pengguna yang gemar social networking,'' kata Filbert Hadijaya, product marketing mobile communication division PT LG Electronics Indonesia, di sela-sela pameran LG New Cookie di WTC, Surabaya, kemarin (29/7).

Dia menguraikan, aplikasi tersebut bukan link menuju situs social networking terkait. Tetapi, aplikasi itu bisa membuka halaman situs secara langsung. Dalam aplikasi SNS, pengguna hanya perlu melakukan login sekali untuk memakai aplikasi tersebut. Lalu, proses selanjutnya tinggal memperbarui untuk mendapatkan pemberitahuan terbaru, seperti status updates di Facebook, tweet terbaru di Twitter, atau My Space.

''Dari sisi penggunaan pulsa, aplikasi ini bisa menghemat pulsa. Sebab, kalau memakai aplikasi link atau dari browser, pertama login pasti memakan pulsa. Nah, kalau SNS, tinggal loading untuk melihat informasi terkini,'' ulas Filbert.

Wanita Lebih Dominan di Situs Jejaring Sosial

ComScore Inc, lembaga riset khusus dunia digital, hari ini merilis laporan terbarunya seputar persentase pengguna jejaring sosial dunia berdasarkan gender.

Pada laporan bertajuk Women on the Web: How Women are Shaping the Internet, comScore memaparkan analisa mendalam terhadap pengguna Internet wanita termasuk menyoroti tren aktivitas internet, skala global dan channel digital.

Dari riset yang melibatkan responden di atas 15 tahun dengan sampel yang diambil dari perkantoran dan perumahan itu diketahui bahwa pengguna wanita lebih sering mengakses situs-situs jejaring sosial dari pada pria secara global, dengan persentase 75,8 persen dibandingkan 69,7 persen (Mei 2010) dari 72,5 persen total pengguna situs jejaring sosial.

"Memahami dan mengetahui pengguna Internet berdasarkan gender lebih spesifik sangat membantu semua pihak, khususnya yang berkecimpung langsung di jagat digital," kata Linda Boland Abraham, chief marketing officer comScore sekaligus executive vice president for global development.

"Kami juga melihat bahwa seluruh wanita di dunia mempunyai pola penggunaan online yang serupa. Mereka memiliki keterikatan yang kuat dengan situs jejaring sosial, tetapi kami juga menemui perbedaan gender pada tingkat lokal, negara, hingga regional, di mana perbedaan kultur penggunaan dan konsumsi konten online sangat berbeda," jelas Linda.

100 Juta Data Pribadi Pengguna Facebook Bebas Beredar

Data personal dari sekitar 100 juta pengguna Facebook telah dikumpulkan dan dipublikasikan di internet oleh konsultan security. Daftar data tersebut telah di-share sebagai file yang bisa diunduh, berisi URL dari setiap profil pengguna Facebook yang memungkinkan untuk dicari berdasarkan nama mereka, dan juga ID unik mereka.

Nah, file ini sudah menyebar secara luas melalui jejaring elektronik. Di Pirate Bay, situs file sharing terbesar di dunia, file ini sudah diunduh dan didistribusikan oleh lebih dari 1.000 pengguna.

Penyedia data bernama Bowles bilang, ia mempublikasikan data tersebut untuk menyoroti isu privasi. Namun, bagi Facebook tindakan Bowles tidak merugikan siapapun dan informasi tersebut memang diperuntukkan bagi publik dan tersedia secara bebas di ranah maya.

"Orang-orang yang menggunakan Facebook merupakan pemilik informasi tersebut dan punya hak untuk membagi apa yang ingin mereka bagi, membagi pada orang-orang yang mereka inginkan, dan membagi kapanpun mereka mau," kata Facebook melalui pernyataannya kepada BBC News.

FBI access to e-mail and Web records raises fears

Invasion of privacy in the Internet age. Expanding the reach of law enforcement to snoop on e-mail traffic or on Web surfing. Those are among the criticisms being aimed at the FBI as it tries to update a key surveillance law.

With its proposed amendment, is the Obama administration merely clarifying a statute or expanding it? Only time and a suddenly on guard Congress will tell.

Federal law requires communications providers to produce records in counterintelligence investigations to the FBI, which doesn't need a judge's approval and court order to get them.

They can be obtained merely with the signature of a special agent in charge of any FBI field office and there is no need even for a suspicion of wrongdoing, merely that the records would be relevant in a counterintelligence or counterterrorism investigation. The person whose records the government wants doesn't even need to be a suspect.

The bureau's use of these so-called national security letters to gather information has a checkered history.

Google’s New Bid to Take on Facebook

After a number of failing attempts to extend its monopoly over online social networking, search engine major Google was reported to be working on a new social networking project to challenge Facebook's domination in the field. Starting with their no-so-successful venture into social networking - Orkut, Google's launched an array of social networking products ranging from Wave to Friend Connect to Buzz, which had no great success. On the contrary, social networking ace Facebook's gaining audience and its advertising network continues to grow, which makes it a potential threat for Google.

According to the reports Google would be pushing into social games that forms the most lucrative means for capture users and advertising dollars that have flooded the social networks. Several facts contribute to the popularity of social games. Basically what most social bees like about online games is ease-to-play.

Google Chief Eric Schmidt admitted "the world doesn't need a copy of Facebook. That said, Google's harping for a platform that could match Facebook's ad-friendliness. This comes to light after Google made a significant investment in Zynga Game Network Inc.

Video: New Tron Legacy Trailer (Coming Soon)


Tweet Rame-Rame dengan Group Tweet

Jika Anda dan teman-teman dalam suatu kelompok tertarik untuk membuat akun Twitter bersama yang bisa di-update oleh semua anggota kelompok, Anda bisa memanfaatkan aplikasi Group Tweet. Aplikasi Twitter buatan pihak ketiga ini memungkinkan setiap anggota kelompok untuk meng-update status Twitter grup tanpa harus login dengan akun Twitter yang dijadikan grup tersebut.
Untuk mempermudah langkah pengaktifan Group Tweet, sebaiknya Anda buat akun Twitter untuk grup Anda terlebih dahulu…. Selanjutnya baru kita mulai langkah-langkah menggunakan Group Tweet…

Karakter Fiktif Perlihatkan Risiko Jejaring Sosial

Seorang ahli keamanan internet bernama Thomas Ryan membuat karakter fiktif atau khayalan untuk memperlihatkan risiko dalam beraktivitas di jejaring sosial.

Karakter Ryan yang diberi nama Robin Sage ini akan dipresentasikan pada acara Black Hat Technical Security Conference di Las Vegas bulan ini. Ryan berharap, hasil eksperimennya bisa menjadi masukan bagi komunitas keamanan nasional untuk benra-benar serius memperhatikan kebijakan terkait jejaring sosial.

"Saya rasa, ini akan mengubah kebijakan. Hasil studi ini mungkin membantu menyediakan sebuah tuntunan. Perusahaan saya bekerja menggarap kebijakan untuk bisa dibagi kepada siapa saja," kata Ryan seperti dilansir Fox News dan dikutip detikINET, Selasa (26/7/2010).

Dalam eksperimennya, Ryan menggunakan Robin Sage untuk mencari informasi dari berbagai sumber melalui situs jejaring sosial.

What has happened to all the new social networks?

Where have all the social networks gone? Of course, this is exactly the right time to be asking this question. Haven't I noticed that Facebook is now claiming 500 million users, in the manner of Doctor Evil in Mike Myers's Austin Powers movies? Haven't I noticed that Twitter is getting its very own data centre, all the better to spread "unimportant trivia" (© all tabloid papers) such as the Crown Prosecution Service's decision not to press a manslaughter charge over Ian Tomlinson's death ?

Well, yes, I have. But my question is actually about the broader subject. What I'm really asking is where all the new social networks have gone. In the past two years, especially as Twitter has risen over the media horizon like a sunrise, barely a week has passed without a new network culled from the web 2.0 name generator – take a verb ending in -er and remove the "e" – being announced, often with a press release smelling ever so slightly of desperation that another "me-too" product could become the "us-instead" replacement.

To which the response is always: that hardly ever happens. Despite the insistence of web executives everywhere that rivals online are "only a click away", you actually have to screw up royally to turn a successful service into one that people leave in droves. (So congratulations to the former managers at MySpace and Bebo: you deserve your place in those MBA case studies of the future.)

Look around, though, and sites such as blip.fm haven't taken off. True, services such as FourSquare and Gowalla seem to be on the rise – although, as Leo Hickman pointed out last week, people haven't quite grasped the threat that they can pose to users. So we're back at the original questions: where are all the new social networks? I think they're gone. Done, dusted, over. I don't think anyone is going to build a social network from scratch whose only purpose is to connect people. We've got Facebook (personal), LinkedIn (business) and Twitter (SMS-length for mobile).

IP Addresses will be Exhausted in Less than a Year

IP addresses are assigned to those devices like computers, phones, cars, wireless sensors, etc that is connected with the Internet. But, according to the Internet analysts, we will run out of IP addresses in less than a year. As per ReadWriteWeb, Internet is evolving on daily basis. New devices are hooked to the net very frequently. That's why we may run out of the numbers to assign those web enabled electronics.
"The main reason for the concern? There's an explosion of data about to happen to the Web thanks largely to sensor data, smart grids, RFID and other Internet of Things data," Richard Macmanus writes on that site.
John Curran, president and CEO of the American Registry for Internet Numbers, told ReadWriteWeb that only 4 billion IP addresses can be assigned under the current system and that is going to be exhausted in less than a year.

Our existing system for assigning IP addresses can only handle 32 bits of data. But, researchers are working on new version called "IPv6″ to accommodate more IP addresses and it will also be able to to handle 128 bits of data.  Alexis Madrigal writes at The Atlantic website that the situation is similar to the 80's and 90's when we were running out of phone numbers. That's why we added more digits.

Kuliah Gratis di Dunia Maya

Dahulu kala nenek moyang mencari wangsit dengan bertapa di goa, lalu pada masa modern orang mendapat pencerahan lewat buku bacaan. Kini, ketika teknologi informasi kian canggih, kita bisa memperolehnya dengan instan lewat jaringan sosial di dunia maya seperti Twitter.

Demikian serentetan kiriman Goenawan Mohamad, penyair dan cendekiawan, di jaringan sosial maya Twitter selama dua hari, pertengahan Juli lalu. Pesan itu dikemas dalam pesan tak lebih dari 140 karakter. Saat disatukan, dengan jumlah total 109 kiriman, terbaca adanya gagasan utuh yang relevan untuk menanggapi situasi inteleransi di negeri ini.

Catatan itu bisa kita tafsirkan lebih luas. Bukankah masyarakat di sini juga kerap melakukan kekerasan atau penghakiman atas nama Tuhan dan agama, sebagaimana di Perancis abad pertengahan itu? Padahal, segala perbedaan itu semestinya membuat hidup lebih dinamis dan indah.

Harap diingat, catatan ini bukan ditulis di halaman buku atau disampaikan seorang dosen ruang kuliah atau pembicara di ruang seminar. Teks-teks itu terpampang di halaman Twitter, microblogging dunia maya yang kian digemari di Indonesia. Mungkin lantaran mirip kuliah, catatan itu dikenal sebagai kuliah Twitter atau kultwitt.

Kini, kultwitt menjadi alternatif pencerahan yang tak kalah ketimbang duduk di bangku universitas sambil mendengarkan ceramah dosen. Apalagi, kuliah dunia maya ini lebih bebas. Kita tinggal mengakses internet (entah lewat telepon genggam, komputer, atau laptop), membuka Twitter, lantas mengunduh sendiri materi yang menarik.

Seiring bertambahnya jumlah pengguna Twitter, kini materi kultwitt semakin beragam. Ada pesan-pesan agama dari Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Jakarta, gagasan liberal Ulil Abshar Abdalla, atau amatan politik Wimar Witoelar. Ada juga catatan ekonomi dari Poltak Hotradero, atau sastra mini dari Agus Noor, Eka Kurniawan, dan Clara Ng.

10 Sisi Buruk Facebook

Sejak diciptakan pada 2004 oleh Mark Zuckerberg, situs jejaring sosial facebook seringkali “disalahkan” atas berbagai masalah. Mulai dari hancurnya pernikahan hingga obesitas pada anak. Bahkan Professor Peter Kelly, kepala kesehatan publik di Teesside, Inggris, mengungkap kalau Facebook berperan dalam penyebaran penyakit sipilis.
Selain tiga hal tersebut, banyak efek lain dari Facebook yang berakibat buruk. Berikut sepuluh dampak buruk dari facebook

1. Memicu perceraian
Pengacara menyalahkan Facebook untuk satu dari lima petisi perceraian online. Situs yang bisa mempertemukan teman lama dan membuat penggunanya bisa saling bicara melalui aplikasi chatting ini, disebut sebagai latar belakang meningkatnya kehancuran pernikahan dan godaan untuk berselingkuh.

2. Memicu anak bunuh diri
Kepala gereja katolik di Inggris dan Wales, Archbishop Vincent Nichols, memeringatkan bahwa that Facebook bisa mendorong remaja memiliki pandangan bahwa pertemanan adalah sebuah komoditas. Hal itu bisa memicu keinginan untuk bunuh diri, ketika hubungan tidak berjalan lagi.

3. Lenyapkan ungkapan tradisional
Survei yang dilakukan sebuah perusahaan peneliti pasar pada 4.000 orang yang usianya dibawah 30 tahun, mengungkap bahwa banyak ungkapan tradisonal yang tidak lagi diungkapkan karena Facebook.

4. Memicu gangguan tulang
Facebook juga sering disalahkan karena gangguan tulang yang terjadi pada anak-anak. Penelitian dalam British Medical Journal menemukan bahwa situs jejaring sosial dan permainan komputer, merupakan pemicu penyakit seperti kekurangan vitamin D yang akibatnya bisa membuat tulang mudah rapuh.

5. Membuat orang menjadi tertutup
Penelitian dari Mintel, sebuah perusahaan penelitian pasar, menemukan lebih dari setengah orang dewasa yang menggunakan situs jejaring sosial seperti Facebook, lebih menghabiskan waktu di internet dibandingkan berbicara dengan teman atau anggota keluarga lainnya.