Langsung ke konten utama

Tunisia, Social Media And Change


A new year and a new life
After four-plus great years in London with @propellergroup, I have now started a new adventure with Malta’s leading marketing agency, BPC International.
I am certainly enjoying the blue skies and getting to grips with helping the great team here build their digital unit as well as launch our expansion into North Africa.
North Africa has of course been in the news a lot recently as Tunisia struggles to find a way through its political crisis.
Tunis is only 250 miles to the west of Malta. Being a lot closer physically to the event than I would otherwise have been in London has definitely made me focus on it more.
The Jasmine Revolution has, as we have now come to expect, triggered yet more discussion on how important social media is or can be in bringing about political change.
Twitter and, in Tunisia’s case, Wikileaks, have been on the receiving end of yet more favorable PR and held up as catalysts for revolution.
There’s no doubt social media played its part. As events moved quickly on Friday, January 14th, I certainly relied on Twitter to get first hand information on the situation.
Meanwhile the world’s media, caught by surprise, struggled to get their news teams into the country.
Bringing the crisis to the world’s attention was not the only immediately apparent benefit.
It was a two-way street with messages of support and, occasionally, news flowing back. People on the streets of Tunis knew their message was reaching the outside world and that they were not alone.
There’s no doubt that social media did also play a role in helping to organize demonstrations and get people on to the streets.
But social media is not a catalyst for change.
It is just a facilitator.
People are catalysts for change.
Those of us who are old enough to remember Czechoslovakia’s  Velvet Revolution, and the subsequent collapse of the Soviet Union, know that you don’t need the Internet to organise a demonstration.
It is years of pent-up frustrations at everyday injustices and abuse that bring people out onto the streets, not a hashtag.
Social media can claim credit for speeding up the process of change in Tunisia.
But anything more than that risks repeating the mistakes committed by many a marketer; putting too much emphasis on the channel and not enough on people and content.
source: http://www.waxingunlyrical.com/2011/01/20/tunisia-social-media-and-change/
Enhanced by Zemanta

POPULAR

Kerajaan Jeumpa, Kerajaan Islam Pertama Nusantara

Teori tentang kerajaan Islam pertama di Nusantara sampai saat ini masih banyak diperdebatkan oleh para peneliti, baik cendekiawan Muslim maupun non Muslim. Umumnya perbedaan pendapat tentang teori ini didasarkan pada teori awal mula masuknya Islam ke Nusantara. Mengenai teori Islamisasi di Nusantara, para ahli sejarah terbagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu pendukung (i) Teori Gujarat (ii) Teori Parsia dan (iii) Teori Mekah (Arab). Bukan maksud tulisan ini untuk membahas teori-teori tersebut secara mendetil, namun dari penelitian yang penulis lakukan, maka dapat disimpulkan bahwa Teori Mekkah (Arab) lebih mendekati kebenaran dengan fakta-fakta yang dikemukakan. Teori Mekkah (Arab) hakikatnya adalah koreksi terhadap teori Gujarat dan bantahan terhadap teori Persia. Di antara para ahli yang menganut teori ini adalah T.W. Arnold, Crawfurd, Keijzer, Niemann, De Holander, SMN. Al-Attas, A. Hasymi, dan Hamka. i Arnold menyatakan para pedagang Arab menyebarkan Islam ketika mereka mendo...

Sejarah: Salman al-Parsi Pendiri Kerajaan Jeumpa Aceh

Sebagaimana dikemukakan terdahulu, bahwa sebelum Nabi Muhammad saw membawa Islam, dunia Arab dengan dunia Melayu sudah menjalin hubungan dagang yang erat sebagai dampak hubungan dagang Arab-Cina melalui jalur laut yang telah menumbuhkan perkampungan-perkampungan Arab, Parsia, Hindia dan lainnya di sepanjang pesisir pulau Sumatera. Karena letak gegrafisnya yang sangat strategis di ujung barat pulau Sumatra, menjadikan wilayah Aceh sebagai kota pelabuhan transit yang berkembang pesat, terutama untuk mempersiapkan logistik dalam pelayaran yang akan menempuh samudra luas perjalanan dari Cina menuju Persia ataupun Arab. Hadirnya pelabuhan transito sekaligus kota perdagangan seperti Barus, Fansur, Lamri, Jeumpa dan lainnya dengan komuditas unggulan seperti kafur, yang memiliki banyak manfaat dan kegunaan telah melambungkan wilayah asalnya dalam jejaran kota pertumbuhan peradaban dunia. ”Kafur Barus”, ”Kafur Fansur”, ”Kafur Barus min Fansur” yang telah menjadi idiom kemewahan para Raja...

Sejarah Huruf Alfabet

Istilah alphabet sebetulnya berasal dari bahasa Semit. Istilah ini terdiri dari dua kata, yaitu aleph yang berarti 'lembu jantan' dan kata beth yang berarti 'rumah'. Konotasi pictografis dari pengertian kedua kata ini menjadi sebutan untuk menunjukkan huruf pertama a (aleph) dan b (beth) dalam urutan huruf-huruf semit (Mario Pei,1971:176). Ini bukan berarti bahwa tulisan tersebut memakai sistem pictografis-ideografis, akan tetapi malah sebaliknya. Orang-Orang Semit mengambil tanda gambar lembu (kepala lembu) dari huruf Hierogliph Mesir tanpa memperdulikan pengertian lembu itu dalam bahasa Mesir sendiri, sedangkan menurut bahasa Semit, lembu itu disebut aleph. Demikian juga dengan tanda gambar rumah yang mereka sebut beth. Kemudian dengan mempergunakan prinsip akroponi, tanda gambar kepala lembu, oleh masyarakat Semit dijadikan tanda untuk bunyi a dan tanda gambar rumah untuk bunyi b. Semua huruf pada alphebt Semit mempunyai konotasi seperti pictografis itu. Daerah y...