Langsung ke konten utama

'I Will Obey The Law' Over Twitter Defamation Case, Says Luna Maya


Actress Luna Maya has said that she is not planning to take any steps over her feud with entertainment journalists following an outburst on Twitter where she compared them to prostitutes.

In a message posted on Tuesday night, she wrote: “Infotainment are LOWER than PROSTITUTES, MURDERERS!!!!! May your soul burn in hell!!!”

Following her post, she has been threatened with boycotts by entertainment television programs and the Indonesian Journalists Association (PWI) has reported her to police.


The PWI filed a complaint against Luna for defamation, lies and unpleasant conduct. She would be charged under Chapters 17 and 45 of the controversial Electronic Information And Transaction (ITE) Law, which carry a punishment of up to to six years in jail or an Rp 1 billion ($100,000) fine.

On Friday, Luna said she was still studying the case.

“I can’t say much at this stage because I am still waiting for the development [of the case]. As a law abiding citizen, I will follow the legal process,” Luna told Metro TV.

She added that she will consult legal and information technology experts. Luna admitted she was tired and annoyed with the infotainment crews who always pushed her to speak about her private affairs when she wrote the message.

Meanwhile, the Alliance of Independent Journalists (AJI) said they had received numerous complaints about infotainment programs.

Margiyono, AJI’s coordinator for legal affairs, said that Luna Maya’s case should make entertainment reporters reflect on how they do their job.

Margiyono said that the AJI also questioned whether infotainment programs were ‘journalism’ because they often violated the journalism code, especially in relation to other people’s privacy. The AJI suggested Luna Maya and the PWI settle the case peacefully.
Source : The Jakarta Globe 

Komentar

POPULAR

Rasulullah Pingsan dan Menangis Saat Mendengarkan Jibril Mengisahkan Pintu Neraka

Yazid Ar raqqasyi dari Anas bin Malik ra. berkata: Jibril datang kepada Rasulullah pada waktu yang ia tidak biasa datang dalam keadaan berubah mukanya, maka ditanya oleh Rasululah Saw: "Mengapa aku melihat kau berubah muka (wajah)?" Jawabnya: "Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orang yang mengetahui bahwa neraka Jahannam itu benar, siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka-suka sebelum ia merasa aman daripadanya".

Kerajaan Jeumpa, Kerajaan Islam Pertama Nusantara

Teori tentang kerajaan Islam pertama di Nusantara sampai saat ini masih banyak diperdebatkan oleh para peneliti, baik cendekiawan Muslim maupun non Muslim. Umumnya perbedaan pendapat tentang teori ini didasarkan pada teori awal mula masuknya Islam ke Nusantara. Mengenai teori Islamisasi di Nusantara, para ahli sejarah terbagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu pendukung (i) Teori Gujarat (ii) Teori Parsia dan (iii) Teori Mekah (Arab). Bukan maksud tulisan ini untuk membahas teori-teori tersebut secara mendetil, namun dari penelitian yang penulis lakukan, maka dapat disimpulkan bahwa Teori Mekkah (Arab) lebih mendekati kebenaran dengan fakta-fakta yang dikemukakan. Teori Mekkah (Arab) hakikatnya adalah koreksi terhadap teori Gujarat dan bantahan terhadap teori Persia. Di antara para ahli yang menganut teori ini adalah T.W. Arnold, Crawfurd, Keijzer, Niemann, De Holander, SMN. Al-Attas, A. Hasymi, dan Hamka. i Arnold menyatakan para pedagang Arab menyebarkan Islam ketika mereka mendo...

Jakarta, Kota Kelima Terburuk Bagi Pekerja IT

Jakarta di malam hari Pekerja profesional di bidang teknologi Informasi membutuhkan sebuah lingkungan kerja yang nyaman untuk mendukung pekerjaannya. Banyak para profesional di bidang teknologi Informasi yang hijrah ke luar negara asalnya untuk menerapkan semua kemampuannya. Tapi ada beberapa kota di dunia yang dinilai sebaiknya harus dihindari bagi Pekerja IT, dan salah satunya adalah Jakarta. Dalam daftar 10 kota yang harus dihindari oleh pekerja IT dunia yang dikeluarkan majalah CIO, Jakarta disebut sebagai kota terburuk dan tak mampu menyediakan lingkungan kerja yang ideal bagi seorang pekerja IT.