Konsultasi Agama: Antara Jodoh dan Keperawanan

Assalamu’alaikum wr. wb.

Ustad Awa, Saya pernah berpacaran dengan seorang pria, selama 4 tahun. Karena kami menganggap keseriusan kami yang segera menikah kami pun dengan sadar melakukann hubungan intim. Tapi takdir bicara lain. Lima bulan sebelum kami akan menikah, dia mengalami kecelakaan di Surabaya. Meninggal. Saya sempat depresi. Masa depan saya seolah sudah hancur. Itu peristiwa 5 tahun lalu.

Sekarang, usia saya sudah 29 tahun. Setelah itu, saya berpacaran dengan 3 pria, dalam waktu yang berbeda. Dan, saya berusaha jujur kepada setiap pacar saya, bahwa saya sudah tidak perawan lagi. Saya tidak ingin mereka tahu setelah kami menikah. Tapi apa akibatnya, saya ditinggalkan. Pacar pertama menghina, memaki saya 'sundal'. Yang kedua mengatakan saya 'ahli neraka'. Yang ketiga bahkan menginginkan saya melakukan hubungan intim dengannya, tapi saya menolak. Dan dia marah sekali, memaki, dan memutuskan cinta saya.

Saya kini putus asa, Ustad. Mengapa lelaki tak bisa menerima saya? Apakah takdir saya untuk tidak menikah karena sudah tak perawan? Apa do’a yang memudahkan jodoh saya dan mau menerima keadaan saya? Tolong bantuannya Ustad Awa.

Jawaban:
Wa’alaikumussalam wr. wb.

Saudari yang dirahmati Allah.Yang paling penting adalah memohon ampun kepada Allah, melakukan tobat, dengan tobat yang sebenar-benarnya (taubatan nasuha). 

Ada 3 kriteria tobat menurut Al-Ghazali, yaitu, (1) meninggalkan dosa-dosa (al iqla' `an al-dzunub), (2) berjanji tidak mengulangi (al-`azm an la ya'uda), (3) menyesali diri atas dosa-dosa yang diperbuat dan atas hilangnya kesempatan dan peluang baik secara sia-sia (al-nadam `ala ma fata).

Tobat melibatkan 3 aspek sekaligus, yaitu aspek pengetahuan manusia (kognisi), aspek sikap mental (afeksi), dan aspek perbuatan (behavioral). Aspek pengetahuan dalam arti kesadaran manusia tentang bahaya dan akibat-akibat buruk dari perbuatan dosa, akan memengaruhi sikap, dan selanjutnya mempengaruhi prilaku dan perbuatannya.

Kriteria yang ketiga di atas, yaitu penyesalan, dipandang oleh Al-Ghazali sebagai kunci sukses tobat. Hal ini, karena tanpa penyesalan yang mendalam, sukar dibayangkan seseorang akan benar-benar bertobat.

Orang yang benar-benar menyesal, ditandai oleh 3 hal, yaitu (1) hatinya lentur dan sensitif serta tidak membeku dan membatu seperti batu cadas (riqqat al-qalb). (2) air matanya mudah meleleh tanpa sadar (ghazarat al-dumu'). (3) ia kapok dan benci pada dosa-dosa yang dahulu pernah dinikmatinya. Orang yang bertobat dengan tingkat penyesalan seperti di atas layak mendapat pengampunan dari Allah SWT.

Perbuatan zina seperti melakukan hubungan intim yang pernah Mbak lakukan dengan pacar saat menjalani hubungan selama 4 tahun, merupakan dosa besar. Hal ini tentunya harus diakhiri dengan meminta ampun dan tobat untuk tidak mengulanginya lagi.

Mengenai ancaman terhadap zina ini, bisa dilihat dalam firman Allah, yaitu: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”, (Q.S. 17 : 32).

“Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas”, (Q.S. 23 : 7). 

(Maksudnya: zina, homoseksual, dan sebagainya).

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman”, (Q.S. 24 : 2).

“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin”, (Q.S. 24 : 3).

(Maksud ayat ini ialah: tidak pantas orang yang beriman kawin dengan yang berzina, demikian pula sebaliknya).

Ketika Mbak bermaksud menikah dengan pria yang sudah melakukan zina berdua kemudian dia meninggal, harus dijadikan sebagai barometer bahwa segala perbuatan harus dipikirkan dengan baik resikonya dan selalu melibatkan Allah. Janganlah menuruti nafsu setan.

Secara hukum Islam, memang perbuatan zina dikenakan sanksi dera 100x. Hal ini dilakukan sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak disengaja. Sementara menurut hukum yang berlaku di Indonesia, selama tidak ada paksaan (pemerkosaan), dilakukan atas dasar suka sama suka, dan tidak ada tuntutan dari salah satu pihak, maka tidak dikenakan sanksi. Namun, secara syar’i tetap merupakan dosa besar. Salah satu pintu pembuka kran-kran rizki adalah menghindari diri dari perbuatan maksiat dan kembali ke jalan yang Allah ridhoi. Yakinlah bahwa Allah akan mengampuni dosa hamba-Nya sebesar apapun bagi yang dikehendaki-Nya, asalkan bukan perbuatan syirik.

Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”, (Q.S. 4 : 48), di mana ayat ini dipertegas di ayat lain yang mirip, yaitu (Q.S. 4 : 116).

Tentang pengampunan Allah juga berfirman: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal”, (Q.S. 3 : 135-136).

(Yang dimaksud perbuatan keji (faahisyah) ialah dosa besar yang mana mudharatnya tidak hanya menimpa diri sendiri tetapi juga orang lain, seperti zina, riba. Menganiaya diri sendiri ialah melakukan dosa yang mana mudharatnya hanya menimpa diri sendiri baik yang besar atau kecil).

Intinya, masa lalu jadikan sebagai pelajaran, ambil hikmahnya untuk memperbaiki diri mulai sekarang dan ke depannya. Bagaimanapun, orang yang hebat bukanlah orang yang tidak pernah melakukan dosa dan kesalahan, namun yang mengakui kesalahan, minta maaf, mohon ampunan, memperbaiki diri, dan tidak mengulanginya lagi. Hal ini pun jauh lebih baik (husnul khatimah) daripada awalnya baik terus, tapi akhirnya buruk dan dosa (syu’ul khatimah).

Mengenai keadaan Mbak sekarang yang sudah tidak perawan lagi, janganlah jadi penghalang untuk memperbaiki diri dan optimisme menjadi surut dalam menjemput jodoh. Memang ada proses menembus dimensi ruang dan waktu yang harus dialami dalam memperbaiki masa lalu. Namun, hal ini tidak lepas dari rahmat Allah selama kita mau berserah diri pada-Nya. Allah akan memberikan jalan, menggantikan kesulitan dengan kemudahan.

Ada beberapa hal yang bisa Mbak lakukan dan pahami, seperti :
  1. Lakukan terus tobat, mohon ampun, mendekatkan diri pada Allah, melakukan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya (iman dan takwa).
  2. Yakinlah bahwa jodoh sudah ditentukan oleh Allah. Allah akan menunjukkan jodoh buat Mbak, tinggal menantinya saja dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.
  3. Perlu mengubah metode dalam mencari pria untuk dijadikan suami. Selama ini menggunakan metode pacaran (bisa dianalisa pada saat pacaran dengan pria pertama, lalu pria berikutnya). Metode ini besar kemungkinan dapat mengakibatkan ketidakseriusan pria karena bisa saja hanya coba-coba atau hanya untuk pacaran semata (tidak serius). Mbak bisa menggunakan metode ta’aruf (perkenalan islami) atau metode menggunakan pihak ke-3. Di mana, metode tersebut adalah berkenalan dengan pria dengan menghindari pacaran (yang bisa menjurus kepada perzinahan seperti kumpul kebo, dll). Metode ini dilakukan dengan cara syar’i, mengenal lebih dekat tentang pria itu dengan melakukan komunikasi dan melibatkan pihak ke-3 sebagai perantara. Pihak ke-3 dari pihak Mbak bisa menggunakan saudara, sehingga informasi tentang Mbak bisa disampaikan kepada pria tersebut. Begitu juga informasi tentang pria itu bisa didapatkan dari saudaranya. Jadi, bisa digunakan dengan cara menggunakan perantara. Hal ini bisa dilakukan dengan catatan tetap menjaga aib. Untuk itu, pihak ke-3 bisa dipilih orang yang dipercaya. Hal ini bisa lebih dijadikan sebagai support agar permasalahan tidak hanya Mbak sendiri yang menanganinya. Jika ada pria yang berkenan, maka biasanya informasinya akan didapatkan dari pihak ke-3, di mana hal ini lebih mudah ketimbang melakukannya langsung sendiri. Jika belum berkenan, tidak masalah, yang penting sudah berterus terang sejak awal.
  4. Perlakukan pria yang tidak mengenakkan saat sudah kenal (menjadi pacar), bisa dijadikan pelajaran sekaligus suatu ‘soal ujian’ untuk mendapatkan pria yang lulus ‘soal ujian’ itu dengan nilai murni (ikhlas menerima karena Allah). Bila pacar menghina Mbak, memaki dengan kata-kata apapun itu sabar dan ikhlaskan saja. Hal ini menunjukkan bahwa dia belum bisa menerima kejujuran kondisi mbak, berarti mereka belum jodohnya mbak. Kesemua itu merupakan suatu media yang Allah berikan agar Mbak bisa mengambil hikmah dan hal ini menunjukkan ke-Maha-Rohman-Rohim-an Allah. Perlu disadari, bahwa tidak ada kesempurnaan dalam cinta. Allah akan menggerakkan hati hamba-Nya melalui rasa ‘nerimo’ dengan ikhlas atas ketidaksempurnaan cinta. Dari semua pria, kebanyakan mendapatkan ketidaksempurnaan cinta. Rasa bersyukur dan ikhlas itulah yang menjadikan cintanya berjalan langgeng. 'Nobody is perfect'. Begitu pun dengan 'cinta'. Ketika mencari kesempurnaan cinta, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya. Karena kesempatan itu hampa adanya. Akhirnya cuma satu hal yang didapatkan, yakni kehampaan... (Ustadz Awa Motivator Cinta). Banyak orang yang merasa hampa karena mencari-cari terus kesempurnaan cinta yang memang tidak ada. Hanya Allah-lah Dzat Pemberi Cinta Yang Sempurna. So, yakinlah bahwa akan ada pria yang menyadari ketidaksempurnaan cinta, seperti halnya manusia yang dhaif, fana… Allah akan menganugerahkan cinta dari seorang laki-laki yang tulus mencintai dan menyayangi Mbak apa adanya.
  5. Yakinlah bahwa keterusterangan di awal, jauh lebih baik daripada keterusterangan di akhir. Lebih baik terus terang daripada di kemudian hari ada penyesalan dari pihak pria jika sudah menjadi suami (walaupun saat-saat awal banyak yang mundur setelah mengetahui ketidakperawanan). Hal ini membutuhkan kekuatan sekaligus keberanian untuk mengungkapkannya. Bagaimanapun, hal ini lebih bagus ketimbang berterus terang menunggu saat sudah menikah, terlebih-lebih keterusterangan nanti didasarkan desakan pertanyaan dari suami. Hal ini pun lebih baik daripada yang dilakukan wanita yang menempuh zina terus-menerus dengan melakukan prostitusi ataupun free sex. Artinya, cukuplah melakukan zina hanya dulu saja karena ‘kecelakaan’, dan sekarang titilah kehidupan sejernih embun, penuh dengan mardhatillah.
  6. Jadikan sebagai media mendapatkan cinta, kasih, dan sayang yang tulus, sehingga akan mendapatkan seorang ‘sosok’ yang menerima ketidakperawanan. Yang jelas, bila Allah memberikan rasa cinta yang tertanam pada seorang pria, maka tiada seorang pun yang bisa melarang, menolak, merekayasa, mengalihkan, ataupun mengulur-ulur. Nantinya akan mendapatkan ‘sosok’ pria yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, improvement, dan bersama-sama menjadikan hidup semakin baik, tanpa melulu menoleh ke belakang, tanpa mengungkit-ungkit masalah ketidakperawanan. Namun, menorehkan niat dan rencana ke depan dengan modal ridha Allah dalam menapaki hari esok yang lebih cerah. Saling mengenal karena Allah, melamar karena Allah, menikah karena Allah, sampai raga membujur ke utara pun semua dilandasi nilai-nilai karena Allah. Cinta yang tulus adalah cinta yang didasari karena Allah. Ketulusan itu sendiri membutuhkan proses dalam menembus dimensi ruang dan waktu. Alangkah bahagianya orang yang pernah merasakan ketidaktulusan cinta, pendustaan cinta, penodaan cinta, dan penghianatan cinta, karena dengan begitu dia akan memahami apa arti ketulusan cinta sekaligus akhirnya akan menemukannya. Meski cinta yang tulus cuma 1 dari seribu bahkan sejuta, namun bukan berarti ‘GAK ADA’. Meski sangat sulit meraih cinta yang tulus, tapi cinta itu akan menghampiri dan bertahta. Selama ‘hati’ masih ada, selama itulah cinta yang tulus masih eksis. Cinta yang bukan sementara. Bukan sekedar cinta kemarin atau hari ini. Namun cinta yang berdimensi ke depan. Dunia-akhirat. Endless love.... (Ustadz Awa Motivator Cinta). Hal ini pun dapat menjadikan ‘pendewasaan cinta’ buat Mbak. Allah akan mengajarkan bentuk dan model cinta yang diridhai-Nya.
  7. Hilangkan keputusasaan, perlu lebih memahami arti cinta dan ‘keperawanan’. Cinta dan jodoh adalah salah satu anugerah Allah yang diberikan tanpa pandang bulu. Obyek atau goal tentang siapa jodoh kita sudah ditentukan Allah. Yang membedakan adalah prosesnya. Ada yang mulus, gradagan, lancar, berliku-liku, hitam-putih, singkat, lama, dll. Kondisi tidak perawan bukan berarti menjadi takdir untuk tidak bisa menikah. Selama roda dunia masih berputar, selama Allah masih memberikan hati dan kesempatan hidup, selama itu pula cinta dan jodoh masih bisa diraih.Memang, keperawanan adalah penting, dianggap suci, dan sebagai harga diri. Namun, bukan berarti jika sudah tidak perawan, lantas hilang segala-galanya. Saat ini ada orang yang melakukan operasi untuk memulihkan keperawanan seperti dengan merangsang hymenal ring, yaitu dengan cara dipotong lalu dijahit (jahitannya disembunyikan). Atau dengan cara berolah raga, maupun dengan menggunakan pil KB. Yang paling penting adalah secara batiniyah. Harga diri bisa dibangun dengan aqidah dan akhlakul karimah. Banyak wanita yang sudah tidak perawan yang tetap mendapatkan jodohnya, dan merupakan pria baik-baik. Karena memang yang penting adalah khusnul khatimah. Dari beberapa kasus serupa, ada wanita yang hancur mentalnya. Mereka melakukan prostitusi, stress, bunuh diri, dll karena menganggap sudah aib, hilang/hancur harga dirinya, dan sekalian nyemplung ke dunia perzinahan, sampai mengakibatkan penyakit HIV/AIDS. Termasuk menganggap hal yang biasa sebagai budaya barat. Na’udzubillahi min dzalik. Yang dialami Mbak saat ini, insya Allah Mbak masih diberikan kekuatan untuk tidak terjerumus ke dalam hal tersebut. Cuma masalah krisis keyakinan tentang jodoh saja. Hal ini bisa diperbaiki dengan meningkatkan keimanan dan ketakwan kepada Allah dan tetap yakin bahwa Allah akan menganugerahkan jodoh yang baik. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan : "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu", (Q.S. 41 : 30). Di ayat lain Allah berfirman, “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”, (Q.S. 3 : 139). Hilangkanlah keputusasaan, ketakutan, dan kesedihan. Allah senantiasa memberikan rahmat kepada hamba-Nya. Allah berfiman, “Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih”, (Q.S. 11 : 9). Jadi, keputusasaan adalah sifat tercela yang harus dihilangkan dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah dan menyerahkan segalanya kepada-Nya.
  8. Tawakkal dan berdo’a kepada Allah. Masih banyak kesempatan terbentang lebar bagi Mbak untuk mendapatkan jodoh. Teruslah berusaha dengan tetap menjaga syar’i dan memperbaiki diri dengan tetap berdo’a dan bertawakkal kepada Allah. Serahkanlah semuanya kepada Allah. Biarlah Allah yang memilihkan jodoh buat Mbak.
Do’a yang bisa diamalkan adalah :

1. Do’a memohon ampun.

“…Robbana ‘alaika tawakkalna wa ilaika anabna wa ilakal mashir. Robbana la taj’alna fitnatal lilladzina kafaru waghfirlana rabbana innaka antal ‘azizul hakim”.

"…Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”, (Q.S. 60 : 4-5).

2. Do’a mendapatkan jodoh.
Ada sebagian orang yang mengamalkan do’a untuk mendapatkan jodoh, yang diambil dari Q.S. 12 : 4.

3. “Allahumma inni as-aluka hubbaka wa hubba mayyuhibbuka wal’amal ladzi yuballighuni hubbaka. Allahummaj’al hubbaka ahabba ilayya min nafsi wa ahli wa minal ma-il barodi”.

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kecintaan-Mu dan kecintaan orang-orang yang mencintai-Mu, dan aku memohon kepada-Mu amal perbuatan yang dapat menyampaikan aku kepada kecintaan-Mu. Ya Allah, jadikanlah rasa cinta kepada-Mu itu lebih aku sukai dari diriku sendiri, keluargaku dan dari air yang sejuk”.

4. “Subhanallahil ‘azhim, ya hayyu ya qoyyumu birohmatika astaghitsu”.

“Maha suci Allah Dzat Yang Maha Agung, wahai Dzat Yang Maha Hidup dan yang mengurusi makhluk-Nya dengan rahmat-Mulah aku memohon pertolongan”.

Semoga Allah memberikan kemudahan, keberkahan, karunia dan jalan yang diridhai-Nya kepada Mbak dalam menjemput jodoh yang terbaik, penuh dengan mardhatillah.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Posting Komentar