Langsung ke konten utama

The End of Facebook

Perhaps a little premature, this idea that the end of Facebook is nigh, but certainly the end of the beginning.
The bad news for Mark Zuckerberg, Facebook’s 27-year-old billionaire creator, is that many people are doing just that. They’re using Facebook less, or leaving it altogether – which is known, would you believe it, as “Facebook suicide”.
Figures show that 100,000 British users deactivated their accounts during May, reducing the total number to 29.8 million. And six million logged off for good in the United States. What started off as an exclusive online social club at Harvard University has saturated Western society. Now it could be on the way down.
The thing with being rated as a hot growth stock is that when the growth starts to slow you’re rated as an ex-hot growth stock.

Facebook is still growing very fast in terms of page views and number of users. But as these new figures show, there does seem to be some sort of limit to that growth. And it’s not the number of people on the planet nor the number of hours in the day which is that limit. There really are people who have tried it, tasted it, and gone, umm, no, I don’t want that thanks very much.
Which is almost exactly what Facebook, Mark Zuckerberg and the various shareholders wouldn’t like people to be finding out as they prepare for next year’s mooted IPO. For everyone would like to IPO when still rated as a hot growth stock.
There’s a larger issue to, as Felix Salmon has pointed out. Yes, certainly, there really was a Google that came out of the dot com boom. And an Amazon, an e-Bay. But to value every company as if they are the next Google, rather than valuing them all as if one of them might be, is pretty much the definition of a bubble.
And in the social media space perhaps even more so. For we’ve had a number of companies that were that new Google over the years. Bebo, Friends Reunited, MySpace: all killed by Facebook (or all killed by the one that came after them, Facebook just being the latest).
Who really is willing to bet: well, OK, quite a lot of people actually, but who ought to be willing to bet that there’s no one about to come up behind Facebook and do the same all over again?

POPULAR

Kerajaan Jeumpa, Kerajaan Islam Pertama Nusantara

Teori tentang kerajaan Islam pertama di Nusantara sampai saat ini masih banyak diperdebatkan oleh para peneliti, baik cendekiawan Muslim maupun non Muslim. Umumnya perbedaan pendapat tentang teori ini didasarkan pada teori awal mula masuknya Islam ke Nusantara. Mengenai teori Islamisasi di Nusantara, para ahli sejarah terbagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu pendukung (i) Teori Gujarat (ii) Teori Parsia dan (iii) Teori Mekah (Arab). Bukan maksud tulisan ini untuk membahas teori-teori tersebut secara mendetil, namun dari penelitian yang penulis lakukan, maka dapat disimpulkan bahwa Teori Mekkah (Arab) lebih mendekati kebenaran dengan fakta-fakta yang dikemukakan. Teori Mekkah (Arab) hakikatnya adalah koreksi terhadap teori Gujarat dan bantahan terhadap teori Persia. Di antara para ahli yang menganut teori ini adalah T.W. Arnold, Crawfurd, Keijzer, Niemann, De Holander, SMN. Al-Attas, A. Hasymi, dan Hamka. i Arnold menyatakan para pedagang Arab menyebarkan Islam ketika mereka mendo...

Sejarah: Salman al-Parsi Pendiri Kerajaan Jeumpa Aceh

Sebagaimana dikemukakan terdahulu, bahwa sebelum Nabi Muhammad saw membawa Islam, dunia Arab dengan dunia Melayu sudah menjalin hubungan dagang yang erat sebagai dampak hubungan dagang Arab-Cina melalui jalur laut yang telah menumbuhkan perkampungan-perkampungan Arab, Parsia, Hindia dan lainnya di sepanjang pesisir pulau Sumatera. Karena letak gegrafisnya yang sangat strategis di ujung barat pulau Sumatra, menjadikan wilayah Aceh sebagai kota pelabuhan transit yang berkembang pesat, terutama untuk mempersiapkan logistik dalam pelayaran yang akan menempuh samudra luas perjalanan dari Cina menuju Persia ataupun Arab. Hadirnya pelabuhan transito sekaligus kota perdagangan seperti Barus, Fansur, Lamri, Jeumpa dan lainnya dengan komuditas unggulan seperti kafur, yang memiliki banyak manfaat dan kegunaan telah melambungkan wilayah asalnya dalam jejaran kota pertumbuhan peradaban dunia. ”Kafur Barus”, ”Kafur Fansur”, ”Kafur Barus min Fansur” yang telah menjadi idiom kemewahan para Raja...

Sejarah Huruf Alfabet

Istilah alphabet sebetulnya berasal dari bahasa Semit. Istilah ini terdiri dari dua kata, yaitu aleph yang berarti 'lembu jantan' dan kata beth yang berarti 'rumah'. Konotasi pictografis dari pengertian kedua kata ini menjadi sebutan untuk menunjukkan huruf pertama a (aleph) dan b (beth) dalam urutan huruf-huruf semit (Mario Pei,1971:176). Ini bukan berarti bahwa tulisan tersebut memakai sistem pictografis-ideografis, akan tetapi malah sebaliknya. Orang-Orang Semit mengambil tanda gambar lembu (kepala lembu) dari huruf Hierogliph Mesir tanpa memperdulikan pengertian lembu itu dalam bahasa Mesir sendiri, sedangkan menurut bahasa Semit, lembu itu disebut aleph. Demikian juga dengan tanda gambar rumah yang mereka sebut beth. Kemudian dengan mempergunakan prinsip akroponi, tanda gambar kepala lembu, oleh masyarakat Semit dijadikan tanda untuk bunyi a dan tanda gambar rumah untuk bunyi b. Semua huruf pada alphebt Semit mempunyai konotasi seperti pictografis itu. Daerah y...