Langsung ke konten utama

12 Korban Luka Akibat Gempa Simeulue

Sedikitnya 12 warga Sinabang, Kabupaten Simeulue dilaporkan mengalami luka berat dan ringan akibat gempa berkekuatan 7,2 pada Skala Richter (SR) yang mengguncang wilayah itu pukul 05.15 WIB, Rabu [07/04].

Petugas Satkorlak PB Aceh Iskandar kepada ANTARA di Banda Aceh, Rabu, menjelaskan, informasi 12 korban luka berat dan ringan itu merupakan laporan yang diterima dari Pemkab Simeuleu.

Disebutkan, dari 12 korban luka akibat gempa itu masing-masing empat mengalami luka parah dan delapan lainnya ringan dan kini mereka dalam perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Simeulue.

Simeulue merupakan salah satu dari 23 kabupaten/kota yang wilayahnya berada di kepulauan atau sekitar 100 mil laut dari pesisir pantai barat Provinsi Aceh.


Pihak Satkorlak hingga saat ini masih melakukan pendataan korban dan kerusakan bangunan akibat gempa tersebut. “Kami masih terus memantau perkembangan yang terjadi sebagai dampak dari bencana alam gempa tersebut,” katanya menambahkan.

Sementara itu, salah seorang petugas PMI cabang Nagan Raya Ardi menyebutkan, sejauh ini situasi masyarakat di wilayahnya masih panik menyusul merebaknya isu tsunami pascagempa. “Masyarakat masih panik dan sebagian besar mereka mengungsi untuk mencari lokasi dataran tinggi dan menjauh dari permukiman dibibir pantai,” tambahnya.

PMI telah mencoba meyakinkan masyarakat bahwa tidak ada tsunami, namun Ardi menyebutkan warga tidak mengubris bahkan ada di antaranya yang sempat marah.

“Masyarakat tidak menggubris ketika kami jelaskan bahwa tidak ada tsunami. Bhakan ada yang sempat marah kepada kami dan mereka tetap mengungsi,” kata petugas PMI tersebut.

Ratusan Warga Mengungsi

Ratusan warga mengungsi ke dataran yang lebih tinggi karena takut terjadi tsunami menyusul gempa bumi berkekuatan 7,2 skala Richter (SR) mengguncang wilayah Provinsi Aceh, Rabu pagi pukul 05.15 WIB.

Bujang (48), warga Pasie Raja Kabupaten Aceh Selatan, Rabu, di Tapaktuan mengatakan bahwa ratusan warga dari Desa Suak Bakong, Barat Daya, Sialang, dan Pulo Air, Kecamatan Kluet Selatan mengungsi ke Desa Sapik dan Durian Kawan, Kecamatan Kluet Timur. “Mereka mengungsi karena takut dan trauma dengan bencana tsunami yang terjadi pada akhir Desember 2004,” kata pengajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Kluet Timur itu.

Gempa yang berada pada lokasi 2,30 Lintang Utara dan 96,87 Bujur Timur, sekitar 75 kilometer tenggara Sinabang, dengan kedalaman 34 km itu juga membuat air laut surut beberapa meter.

Menurut Bujang, beberapa menit setelah gempa ada warga yang menginformasikan bahwa air laut surut sehingga membuat penduduk yang berdomisili di pesisir pantai panik dan mengungsi ke dataran yang lebih tinggi.

“Selain menggunakan kendaraan roda empat dan dua, ada juga warga yang menempuh perjalanan sejauh 8 km dengan berjalan kaki,” katanya.

Selain itu ratusan warga desa Kemumue dan beberapa desa lainnya pesisir pantai Samudera Hindia kecamatan Labuhan Haji Kabupaten Aceh Selatan juga dilaporkan mengungsi ke daratan yang lebih tinggi. “Warga yang tinggal di pesisir pantai panik dan berlarian keluar rumah serta mengungsi ke gunung Kauman Kampung Pisang, bahkan sempat terjadi tabrakan sesama penggunan sepeda motor,” kata warga kampung Pisang, Husni (24).

Dari Kabupaten Aceh Barat, ribuan warga yang berdomisili dipinggir pantai terutama di ibu kota kabupaten, Meulaboh, juga mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. “Jalan dari arah Meulaboh menuju Lapang masih macet dan sebagian sekolah juga diliburkan,” kata Dedi (26) seorang warga kota Meulaboh.

Petugas Pusat Informasi Gempa Bumi pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Jakarta, Bayu Pranata mengatakan bahwa gempa berkekuatan 7,2 SR mengguncang wilayah Provinsi Aceh berpotensi tsunami. “Kami sudah mengeluarkan status waspada tsunami akibat gempa yang berkekuatan 7,2 SR itu,” katanya.

Selain warga di Provinsi Aceh, gempa yang terjadi menjelang azan subuh itu juga dirasakan di Sibolga, Gunung Sitoli, Padang Sidempuan, Kota Medan, Sumatra Barat, dan Riau. BMKG juga mencatat gempa susulan yang terjadi pada pukul 05.26 WIB dengan kekuatan 5,1 SR berada sekitar 60 km tenggara Sinabang, pukul 05.28 WIB gempa dengan kekuatan 5,2 SR juga terjadi di sekitar 3,2 km arah timur laut Gunung Sitoli, Sumatra Utara.

Panik Isu Tsunami

Ribuan warga panik dan berlarian menyusul isu naiknya air laut (tsunami) pascagempa di kota Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan, sekitar pukul 09.00 WIB.

Seorang tokoh pemuda Aceh Selatan, Teuku Masrizal yang dihubungi dari Banda Aceh, Rabu, menjelaskan pada pukul 09.00 WIB, masyarakat berlarian menuju dataran tinggi karena adanya isu tsunami.

“Kami heran menyaksikan kepanikan itu. Masyarakat berlarian dari kota menuju daratan yang lebih tinggi karena mereka mendengar isu adanya tsunami,” katanya.

Padahal, Pemerintah Aceh Selatan melalui camat kota Tapaktuan telah mengimbau masyarakat agar tidak panik karena tidak ada tsunami. Namun imbauan tersebut tidak digubris dan hingga pukul 09.30 WIB masih terlihat warga berupaya menjauh dari pantai. Kota Tapaktuan memang berada pada posisi pinggir pantai Samudera Indonesia.

Bahkan, Masrizal melaporkan aktivitas belajar dan mengajar tampak lumpuh, termasuk sebagian karyawan kantor swasta dan pegawai negeri. “Murid SD sampai pelajar SMA disuruh pulang ke rumah masing-masing karena isu naiknya air laut pascagempa,” tambahnya.

Masrizal menyebutkan sebagian pedagang juga tampak belum membuka kedai atau tokonya, karena mereka masih trauma dengan gempa yang terjadi pada Rabu, pukul 05.15 WIB itu.

sumber : http://beritasore.com/2010/04/07/12-korban-luka-akibat-gempa-simeulue/

POPULAR

Kerajaan Jeumpa, Kerajaan Islam Pertama Nusantara

Teori tentang kerajaan Islam pertama di Nusantara sampai saat ini masih banyak diperdebatkan oleh para peneliti, baik cendekiawan Muslim maupun non Muslim. Umumnya perbedaan pendapat tentang teori ini didasarkan pada teori awal mula masuknya Islam ke Nusantara. Mengenai teori Islamisasi di Nusantara, para ahli sejarah terbagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu pendukung (i) Teori Gujarat (ii) Teori Parsia dan (iii) Teori Mekah (Arab). Bukan maksud tulisan ini untuk membahas teori-teori tersebut secara mendetil, namun dari penelitian yang penulis lakukan, maka dapat disimpulkan bahwa Teori Mekkah (Arab) lebih mendekati kebenaran dengan fakta-fakta yang dikemukakan. Teori Mekkah (Arab) hakikatnya adalah koreksi terhadap teori Gujarat dan bantahan terhadap teori Persia. Di antara para ahli yang menganut teori ini adalah T.W. Arnold, Crawfurd, Keijzer, Niemann, De Holander, SMN. Al-Attas, A. Hasymi, dan Hamka. i Arnold menyatakan para pedagang Arab menyebarkan Islam ketika mereka mendo...

Sejarah: Salman al-Parsi Pendiri Kerajaan Jeumpa Aceh

Sebagaimana dikemukakan terdahulu, bahwa sebelum Nabi Muhammad saw membawa Islam, dunia Arab dengan dunia Melayu sudah menjalin hubungan dagang yang erat sebagai dampak hubungan dagang Arab-Cina melalui jalur laut yang telah menumbuhkan perkampungan-perkampungan Arab, Parsia, Hindia dan lainnya di sepanjang pesisir pulau Sumatera. Karena letak gegrafisnya yang sangat strategis di ujung barat pulau Sumatra, menjadikan wilayah Aceh sebagai kota pelabuhan transit yang berkembang pesat, terutama untuk mempersiapkan logistik dalam pelayaran yang akan menempuh samudra luas perjalanan dari Cina menuju Persia ataupun Arab. Hadirnya pelabuhan transito sekaligus kota perdagangan seperti Barus, Fansur, Lamri, Jeumpa dan lainnya dengan komuditas unggulan seperti kafur, yang memiliki banyak manfaat dan kegunaan telah melambungkan wilayah asalnya dalam jejaran kota pertumbuhan peradaban dunia. ”Kafur Barus”, ”Kafur Fansur”, ”Kafur Barus min Fansur” yang telah menjadi idiom kemewahan para Raja...

Sejarah Huruf Alfabet

Istilah alphabet sebetulnya berasal dari bahasa Semit. Istilah ini terdiri dari dua kata, yaitu aleph yang berarti 'lembu jantan' dan kata beth yang berarti 'rumah'. Konotasi pictografis dari pengertian kedua kata ini menjadi sebutan untuk menunjukkan huruf pertama a (aleph) dan b (beth) dalam urutan huruf-huruf semit (Mario Pei,1971:176). Ini bukan berarti bahwa tulisan tersebut memakai sistem pictografis-ideografis, akan tetapi malah sebaliknya. Orang-Orang Semit mengambil tanda gambar lembu (kepala lembu) dari huruf Hierogliph Mesir tanpa memperdulikan pengertian lembu itu dalam bahasa Mesir sendiri, sedangkan menurut bahasa Semit, lembu itu disebut aleph. Demikian juga dengan tanda gambar rumah yang mereka sebut beth. Kemudian dengan mempergunakan prinsip akroponi, tanda gambar kepala lembu, oleh masyarakat Semit dijadikan tanda untuk bunyi a dan tanda gambar rumah untuk bunyi b. Semua huruf pada alphebt Semit mempunyai konotasi seperti pictografis itu. Daerah y...