Langsung ke konten utama

Militants in Aceh Are Jemaah Islamiyah, Say Indonesian Police

Anti terror police searching for Islamic militants in Aceh Besar

National Police Chief Gen. Bambang Hendarso Danuri said on Tuesday that armed militants on the run in the remote mountains of Aceh are part of the Jemaah Islamiyah regional terrorist network.

Bambang said the militants, who have been the target of a bloody three-week police manhunt across the province, had been undergoing terrorist training in Jalin Jantho, Aceh Besar district, before their camp was raided on Feb. 22.

“They are all members of the regional Jemaah Islamiyah network, who are most wanted for their role in a string of bombings,” he said.

JI is a Southeast Asian network affiliated with Al Qaeda. The group is blamed for killing 202 people in Bali in 2002 and 12 others at the JW Marriott Hotel in Jakarta in 2003.
A splinter JI group led by Noordin M Top, who was killed last year in a police raid in Central Java, is blamed for bombing the Australian Embassy in 2004, as well as last July’s twin bombings of the Marriott and Ritz-Carlton hotels in Jakarta.

Authorities have said the Aceh militants were linked to alleged terrorists shot dead or captured last week in Tangerang. In the past three weeks, police have killed seven people and arrested 31 in operations in Aceh, Jakarta, Banten and West Java.

“We are still chasing the rest of the network’s members,” Bambang said.

He also dismissed earlier speculation that the militants in Aceh were former members of the defunct separatist Free Aceh Movement (GAM), which signed a peace agreement with the central government in 2005.

“It’s purely Jemaah Islamiyah. The network is up to something in Aceh,” he said, without elaborating.

Ansyaad Mbai, head of the counterterrorism desk at the Coordinating Ministry for Legal, Political and Security Affairs, was reported as saying last week that terrorists could be targeting the busy sea lanes in the Malacca Strait off Aceh’s southeast coast.

However, Ansyaad said JI was so fractured due to counter-terrorism efforts that any militant group could claim to carry its banner.

Bambang on Tuesday visited the Leupung Police station in remote Aceh Besar to honor local officers who shot dead two alleged JI terrorists on Friday and arrested eight others. In a speech, the National Police chief identified the two dead suspects as Encang Kurnia, 31, and Pura Sudirman, a k a Jaja, 40, both from Bandung.

He said they were JI members and had been on the most-wanted list of Densus 88, the National Police’s counter-terrorism squad.

He said Sudirman’s younger brother, Tono, another suspected terrorist still on the loose and most likely in Aceh, was involved in a planned attack on the motorcade of President Susilo Bambang Yudhoyono last year that was disrupted by police.

“He [Tono] is armed with an AK-47 and very dangerous,” he said.

Bambang reminded the public that the manhunt in Aceh was not over.

“There are still 14 remaining dangerous men [on the most-wanted list] walking free around us who are highly skilled,” Bambang said.
 
source : http://indonesiathisday.blogspot.com/2010/03/militants-in-aceh-are-jemaah-islamiyah.html

POPULAR

Kerajaan Jeumpa, Kerajaan Islam Pertama Nusantara

Teori tentang kerajaan Islam pertama di Nusantara sampai saat ini masih banyak diperdebatkan oleh para peneliti, baik cendekiawan Muslim maupun non Muslim. Umumnya perbedaan pendapat tentang teori ini didasarkan pada teori awal mula masuknya Islam ke Nusantara. Mengenai teori Islamisasi di Nusantara, para ahli sejarah terbagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu pendukung (i) Teori Gujarat (ii) Teori Parsia dan (iii) Teori Mekah (Arab). Bukan maksud tulisan ini untuk membahas teori-teori tersebut secara mendetil, namun dari penelitian yang penulis lakukan, maka dapat disimpulkan bahwa Teori Mekkah (Arab) lebih mendekati kebenaran dengan fakta-fakta yang dikemukakan. Teori Mekkah (Arab) hakikatnya adalah koreksi terhadap teori Gujarat dan bantahan terhadap teori Persia. Di antara para ahli yang menganut teori ini adalah T.W. Arnold, Crawfurd, Keijzer, Niemann, De Holander, SMN. Al-Attas, A. Hasymi, dan Hamka. i Arnold menyatakan para pedagang Arab menyebarkan Islam ketika mereka mendo...

Sejarah: Salman al-Parsi Pendiri Kerajaan Jeumpa Aceh

Sebagaimana dikemukakan terdahulu, bahwa sebelum Nabi Muhammad saw membawa Islam, dunia Arab dengan dunia Melayu sudah menjalin hubungan dagang yang erat sebagai dampak hubungan dagang Arab-Cina melalui jalur laut yang telah menumbuhkan perkampungan-perkampungan Arab, Parsia, Hindia dan lainnya di sepanjang pesisir pulau Sumatera. Karena letak gegrafisnya yang sangat strategis di ujung barat pulau Sumatra, menjadikan wilayah Aceh sebagai kota pelabuhan transit yang berkembang pesat, terutama untuk mempersiapkan logistik dalam pelayaran yang akan menempuh samudra luas perjalanan dari Cina menuju Persia ataupun Arab. Hadirnya pelabuhan transito sekaligus kota perdagangan seperti Barus, Fansur, Lamri, Jeumpa dan lainnya dengan komuditas unggulan seperti kafur, yang memiliki banyak manfaat dan kegunaan telah melambungkan wilayah asalnya dalam jejaran kota pertumbuhan peradaban dunia. ”Kafur Barus”, ”Kafur Fansur”, ”Kafur Barus min Fansur” yang telah menjadi idiom kemewahan para Raja...

Sejarah Huruf Alfabet

Istilah alphabet sebetulnya berasal dari bahasa Semit. Istilah ini terdiri dari dua kata, yaitu aleph yang berarti 'lembu jantan' dan kata beth yang berarti 'rumah'. Konotasi pictografis dari pengertian kedua kata ini menjadi sebutan untuk menunjukkan huruf pertama a (aleph) dan b (beth) dalam urutan huruf-huruf semit (Mario Pei,1971:176). Ini bukan berarti bahwa tulisan tersebut memakai sistem pictografis-ideografis, akan tetapi malah sebaliknya. Orang-Orang Semit mengambil tanda gambar lembu (kepala lembu) dari huruf Hierogliph Mesir tanpa memperdulikan pengertian lembu itu dalam bahasa Mesir sendiri, sedangkan menurut bahasa Semit, lembu itu disebut aleph. Demikian juga dengan tanda gambar rumah yang mereka sebut beth. Kemudian dengan mempergunakan prinsip akroponi, tanda gambar kepala lembu, oleh masyarakat Semit dijadikan tanda untuk bunyi a dan tanda gambar rumah untuk bunyi b. Semua huruf pada alphebt Semit mempunyai konotasi seperti pictografis itu. Daerah y...