Langsung ke konten utama

Hubungan Romantis Via Internet



Online Dating 
“Nt, seorang gadis ABG yang dilaporkan hilang sejak Sabtu (6/2/2010) malam hingga Senin malam ini, belum juga ditemukan… Ia diduga dibawa pergi salah satu teman pria yang dikenalnya melalui jejaring sosial Facebook…” http://megapolitan.kompas.com/read/2010/02/08/21171131/Hilang.Tiga.Hari..Nt.Belum.Ditemukan

Berita seperti di atas memang sering terdengar beberapa hari ini. Internet dengan segala kemudahannya seakan-akan mampu menyediakan akses untuk mendapatkan cinta. Melalui situs sosial yang sedang banyak digunakan masyarakat, banyak individu mencoba peruntungannya untuk mencari calon pasangan. Namun, internet dengan segala kemudahannya juga memiliki sisi tajam, salah satunya seperti kasus yang sedikit telah dijabarkan. Meskipun tidak sedramatis kasus di atas, cukup banyak pasangan yang berkenalan dan memiliki kisah cinta melalui internet.

Banyak yang berpendapat bahwa sebuah hubungan idealnya dilakukan secara langsung, tidak melalui layar computer. Namun bagaimana dengan hubungan cinta via internet yang saat ini sudah banyak dilakukan masyarakat? King, Ausin-Oden, dan Lohr (2009) menjelaskan bahwa dalam setiap hubungan pada dasarnya semua individu memiliki kecenderungan untuk mencari reward (ganjaran / akibat) yang positif. Jika usaha yang dilakukan tidak sebanding dengan reward yang diterima, maka biasanya hubungan tersebut akan berakhir. Seperti saat salah satu pihak merasa bahwa apa yang dilakukan untuk menyenangkan pihak lain hanyalah sebuah hal yang sia-sia. Pasangan justru tidak mengapresiasi segala yang telah dilakukan, bukan kasih sayang yang diperoleh tapi hanya respon dingin yang diterima. Hal tersebut tidak hanya terjadi di dunia nyata, di dunia maya pun hal tersebut berlaku. Oleh karena itu King dkk berpendapat bahwa hubungan yang terjalin via internet tidak jauh berbeda dengan yang terjalin di dunia nyata.

Melalui penelitiannya, Scramaglia (2002) menemukan bahwa mereka yang menjalin hubungan melalui internet memiliki tingkat keintiman serta kepercayaan yang lebih besar dibandingkan mereka yang berhubungan di dunia nyata. Hal tersebut juga didukung oleh penelitian Pornsakulvanich, Haridakis, dan Rubin (2008) yang menjelaskan bahwa pengguna media internet menunjukkan tingkat self-disclosure atau tingkat keterbukaan yang tinggi kepada pasangan online-nya. Hal tersebut bisa saja muncul dengan anggapan bahwa akan lebih mudah untuk kita menceritakan sesuatu kepada orang asing yang tidak akan kita temui. Pornsakulvanich (2008) juga menjelaskan bahwa keterbukaan dengan pasangan akan membuat hubungan yang dijalankan semakin baik.

Meskipun demikian, Scramaglia (2002) menemukan bahwa hubungan yang dimulai via internet kebanyakan tidak bertahan lama. Hayhoe (dalam Scramaglia, 2002) menjelaskan bahwa 70 % pasangan di Australia yang memulai hubungannya via internet hanya bertahan selama beberapa bulan. Sedangkan di Itali, jumlah tersebut meningkat menjadi 80 % saat pasangan melakukan ‘kopi darat’ atau bertemu dengan pasangan internetnya. Sayang sekali saya tidak bisa menemukan studi yang menjelaskan hal tersebut di Indonesia.

Hal lain yang saya temukan adalah mengenai karakteristik dari mereka yang memulai hubungan via internet. Scramaglia (2002) yang melakukan penelitiannya di Itali dengan subyek penelitian pria dan wanita usia 16 sampai 34 tahun menemukan bahwa 54% dari mereka yang memulai hubungan hubungan via internet adalah pelajar dan 32% dari mereka merupakan pekerja. Hampir seluruh partisipan pernah menjalani pendidikan di SMA. Latar belakang mereka pun bervariasi, dari berbagai kelas sosial dan berbagai level pekerjaan. Empat puluh persen di antara mereka masih melajang (single), 38 % sudah bertunangan, tinggal bersama pasangan, menikah, atau seudah bercerai.

Saya sering mendengar pendapat bahwa yang menggunakan internet adalah individu yang ‘kuper’, tidak punya teman, dan sebagainya. Pendapat tersebut juga dikemukakan Caplan; Morahan-Martin dan Schumacher (dalam Pornsakulvanich, 2008). Mereka menemukan bahwa orang-orang yang kesepian lebih banyak menggunakan internet dibanding mereka yang tidak kesepian. Interaksi online menurut orang-orang kesepian dirasa lebih ‘aman’ dan rewarding dibanding interaksi sosial didunia nyata. Hal tersebut tidak sesuai dengan penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan Scramaglia (2002), ia menemukan bahwa 60% dari mereka memiliki banyak teman dan hanya 8 % dari mereka yang tidak memiliki banyak teman.

Seperti kutipan di awal tulisan ini, tidak bisa dipungkiri bahwa facebook tampaknya merupakan salah satu situs sosial yang sedang populer saat ini. Melalui facebook juga muncul rasa ketertarikan dan mungkin perasaan suka. Satu fakta atau ‘tips’ yang saya temukan adalah individu yang membuat profil yang melebih-lebihkan penampilan (seperti memasang foto orang lain), melebih-lebihkan status ternyata lebih kecil kemungkinannya untuk mendapatkan kekasih via internet. Hal lain yang dianggap mengganggu dan sering terjadi di banyak teman wanita saya adalah kiriman pesan (message) melalui inbox, wall, ataupun email yang isinya mengajak kenalan dan berharap mendapat tanggapan (Witty, 2008).

Saya memang tidak mempunyai data tentang jumlah pasangan yang memulai hubungan via internet. Namun tidak dapat dipungkiri, bahwa internet memang memberi banyak kemudahan, tidak terkecuali dalam hubungan romantis. Jika berkaca pada kasus diawal tulisan ini, kita juga harus berhati-hati dalam menggunakan internet sehingga terhindar dari kasus serupa.

Nova Ariyanto JoNo


Sumber:

Pornsakulvanich, V., Haridakis, P., & Rubin, A.M. 2008. The influence of dispositions and Internet motivation on online communication satisfaction and relationship closeness. Computers in Human Behavior 24 (2008) 2292–2310
Scramaglia, R. 2002. Love and the web. European Review, Vol. 10, No. 3, 317–338
Whitty, M.T. 2008. Liberating or debilitating? An examination of romantic relationships, sexual relationships and friendships on the Net. Computers in Human Behavior 24 (2008) 1837–1850

sumber tulisan : http://ruangpsikologi.com/hubungan-romantis-via-internet

POPULAR

Hacker Perusak Ribuan Situs Ditangkap

Pakistan telah melacak kelompok hacker besar dan memenjarakan 5 tersangka yang terlibat dalam merusak ribuan situs web domestik dan internasional dan penipuan online. “Hacker yang dikenal secara internasional telah ditangkap dalam operasi bersama negara-negara lain selama beberapa minggu ini,” kata staf senior Federal Investigation Agency (FIA) Mian Idrees. “Kami telah menggali hacker terkenal Grup Pakbugs dan menangkap 5 anggota grup ini,” katanya. Pihak berwenang menyita komputer dan perlengkapan lain yang terlibat dalam berbagai macam kriminal cyber, katanya. FIA mengatakan dalam sebuah pernyataan, grup ini terlibat dalam pembajakan atau perusakan ribuan situs web milik pemerintah, non-pemerintah dan organisasi internasional. “Mereka juga terlibat dalam penipuan kartu kredit dan penggunaan kartu kredit yang dicuri,” katanya. Pembuat Pakbugs, Jawad Ehsan alias Humza dipercaya berbasis di Arab Saudi, katanya. Tapi pendiri Hassan Khan telah ditangkap di barat laut Peshawa...

Irwandi, Hobi Nyetir Mobil dan Perempuan Cantik

Sebagai Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf minta kepada rakyat tidak menggugatnya dalam dua hal. Pertama, menyetir mobil sendiri. Kedua, menikahi perempuan cantik. Sensasi sepertinya belum juga pupus dari diri dan model kepemimpinan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf. Bayangkan, di tengah berbagai kritik tiga tahun “kegagalan” pemerintahannya, Dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala ini, kembali mengeluarkan pernyataan yang membuat sebagian pendukungnya berdecak kagum. “Hanya dua hal yang saya minta pada rakyat Aceh. Lain saya berikan semuanya. Pertama, jangan gugat hobi saya menyetir mobil. Kedua, saya dicandukan untuk menyukai perempuan yang cantik, itu canduan dan saya punya istri cantik. Cuma dua hal itu yang saya minta.

Samsung Galaxy: Another Android Blasts Off

  IT'S getting harder and harder to keep up with all the latest Android mobile phone launches. They are like buses. You wait ages for one, and then about six come along at once. Hot on the heels of the Sony Ericsson X10, LG's first in the GW620, HTC and its Legend and Desire plus Samsung's own Galaxy Portal now comes this beauty. Again it's a Samsung. Again it's a Galaxy but this is codenamed the S and we've no idea why. It's hardly catchy.