Langsung ke konten utama

Tips 'Bersuara' Aman di Internet

Internet terkenal dengan kebebasan berekspresinya. Meski demikian, bukan berarti internet tak punya aturan. Jika salah melangkah, netter pun bisa saja dijebloskan ke penjara.

Seperti yang dialami Prita Mulyasari, yang lantaran berkeluh kesah malah diseret ke meja hijau oleh Rumah Sakit Omni Internasional. Nah, untuk itu kita harus pintar-pintar menyiasati agar tak terjerat Undang-undang Informasi dan Elektronik (UU ITE) seperti halnya Prita.


Berikut beberapa tips singkat yang diramu dari blogger kawakan Blontank Poer saat acara diskusi bertajuk 'Media Baru Sebagai Kebebasan Berekspresi' di Base Camp ICT Watch, Jakarta, Kamis (19/11/2009:

  1. Think Before Posting. Ini merupakan slogan yang juga dipakai ICT Watch dalam berkampanye. Kalimat sederhana, namun mempunyai efek yang luar biasa. Ketika seorang konsumen ingin meluapkan surat protes, usahakan jangan dibuat saat sedang 'panas'. Sebab emosi yang tak terkendali malah bisa menyerang kita kembali. Intinya, setelah menulis coba dibaca lagi, jangan langsung posting. Tunggu keadaan emosional kita reda baru baca kembali, resapi dan edit kata-kata yang hanya mengumbar nafsu amarah.
  2. Tambahkan Data-data Penunjang. Untuk lebih meyakinkan tulisan yang kita buat, sangat dianjurkan untuk tidak membuat tulisan yang seadanya. Maksudnya, masukkan pula data-data penunjang yang terkait dengan tulisan yang kita buat. Data penunjang tersebut bisa dengan mudah didapatkan dari 'Mbah' Google. Jadi misalkan kita sedang membuat tulisan tentang internet Indonesia, kita bisa memasukkan jumlah pengguna internet Tanah Air atau data pendukung lainnya. Selain untuk memperkaya tulisan, hal itu juga bermanfaat bak strategi 'membuang body'. Misalkan, ketika ada yang bertanya darimana data-data yang tertera, kita bisa beralasan didapat dari sumber lain. Tentunya sumber tersebut harus memiliki asal usul yang jelas dan terpercaya.
  3. Tak Menyebut Merk. Sementara jika kita ingin menyerang seseorang atau pihak-pihak tertentu di internet, sebaiknya tak langsung 'menyebut merk' alias nama pihak yang kita incar. Hal ini bisa dibilang sekadar untuk mencari aman. Misalnya, hanya disebutkan pria ini berkepala plontos, berbadan tegap, dan menjadi anggota dewan dari partai X. Tentu dengan ciri-ciri tersebut, khalayak sudah tahu siapa yang kita tuju. 
  4. Biarkan Fakta Berbicara. Usahakan bahwa kejadian atau protes yang kita tulis merupakan hal yang kita benar-benar rasakan. Pasalnya, itu merupakan fakta kejadian. Lebih bagus lagi kalau disertakan barang bukti, bisa berupa foto atau yang lainnya.

Barang bukti atau foto ditambah dengan tulisan merupakan kombinasi sempurna untuk menyuarakan protes atau pendapat Anda di dunia maya.

Sumber : http://www.kilasberita.com/kb-tech/tips-a-trick/20232-tips-bersuara-aman-di-internet

Komentar

POPULAR

Kerajaan Jeumpa, Kerajaan Islam Pertama Nusantara

Teori tentang kerajaan Islam pertama di Nusantara sampai saat ini masih banyak diperdebatkan oleh para peneliti, baik cendekiawan Muslim maupun non Muslim. Umumnya perbedaan pendapat tentang teori ini didasarkan pada teori awal mula masuknya Islam ke Nusantara. Mengenai teori Islamisasi di Nusantara, para ahli sejarah terbagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu pendukung (i) Teori Gujarat (ii) Teori Parsia dan (iii) Teori Mekah (Arab). Bukan maksud tulisan ini untuk membahas teori-teori tersebut secara mendetil, namun dari penelitian yang penulis lakukan, maka dapat disimpulkan bahwa Teori Mekkah (Arab) lebih mendekati kebenaran dengan fakta-fakta yang dikemukakan. Teori Mekkah (Arab) hakikatnya adalah koreksi terhadap teori Gujarat dan bantahan terhadap teori Persia. Di antara para ahli yang menganut teori ini adalah T.W. Arnold, Crawfurd, Keijzer, Niemann, De Holander, SMN. Al-Attas, A. Hasymi, dan Hamka. i Arnold menyatakan para pedagang Arab menyebarkan Islam ketika mereka mendo...

Sejarah Huruf Alfabet

Istilah alphabet sebetulnya berasal dari bahasa Semit. Istilah ini terdiri dari dua kata, yaitu aleph yang berarti 'lembu jantan' dan kata beth yang berarti 'rumah'. Konotasi pictografis dari pengertian kedua kata ini menjadi sebutan untuk menunjukkan huruf pertama a (aleph) dan b (beth) dalam urutan huruf-huruf semit (Mario Pei,1971:176). Ini bukan berarti bahwa tulisan tersebut memakai sistem pictografis-ideografis, akan tetapi malah sebaliknya. Orang-Orang Semit mengambil tanda gambar lembu (kepala lembu) dari huruf Hierogliph Mesir tanpa memperdulikan pengertian lembu itu dalam bahasa Mesir sendiri, sedangkan menurut bahasa Semit, lembu itu disebut aleph. Demikian juga dengan tanda gambar rumah yang mereka sebut beth. Kemudian dengan mempergunakan prinsip akroponi, tanda gambar kepala lembu, oleh masyarakat Semit dijadikan tanda untuk bunyi a dan tanda gambar rumah untuk bunyi b. Semua huruf pada alphebt Semit mempunyai konotasi seperti pictografis itu. Daerah y...

Say Cheese: 12 Photos That Should Never Have Been Posted Online

You know the old cliche, a picture is worth a thousand words? Turns out that pictures have been deeply undervalued: A single photo can cost you your reputation, your job, even your freedom--if you post it online. Teachers, principals, firefighters, mayors, university presidents, and everyday people have all discovered the dark side of putting the wrong photos and videos on social networking sites. Sometimes they paid the price in embarrassment. An unlucky handful lost their jobs or landed in jail. The results aren't pretty, but they are sometimes hilarious. Here's our dirty dozen--12 pictures their owners probably wish they could take back. 1. Hey Kevin, Tinker Bell Wants Her Outfit Back It's bad enough to dress up like you're about to slip a dollar under some toothless child's pillow. But former intern Kevin Colvin made it much worse by asking his boss at Anglo Irish Bank if he could take time off for a "family emergency in New York," then flitting o...