Langsung ke konten utama

New Micro-Machine Harvests Energy from Vibrations


Highways, train stations, and even dance floors: the world is full of vibrating surfaces that could yield a rich trove of clean, sustainable energy. It’s called piezoelectric energy, formed by the conversion of mechanical strain into electrical current. Now a team of researchers in Europe has developed a micro-scaled piezoelectric device that could harvest energy from machinery as well as from infrastructure and buildings.


The tiny devices are ideal for use in powering remote sensing equipment, for example to monitor bridges or machines for early signs of deterioration. In that case they could play a key role in more energy efficient maintenance for wind turbines and other renewable energy infrastructure, while lowering human risk.

Piezoelectric Sensors and Energy Efficient Maintenance
Wind turbines present some pretty challenging maintenance and repair issues. Aside from the element of human risk in climbing the turbines, sending out teams and inspection equipment to remote locations (including offshore locations) can burn through a lot of energy. An onsite, realtime, self-sustaining piezoelectric monitoring device could save unnecessary trips while identifying small problems long before they develop into big ones.

A Lead-Free Piezoelectric Device
The new device was developed by a partnership that included the European nanotechnology research institute IMEC and Holst Centre, an independent research institute specializing in wireless technology. About the size of a die, the multi-layered device was made with MEMS (microelectromechanical systems) technologies that permitted the partners to engineer a durable, wafer-scale package. One important advantage of the new device is its use of aluminum nitride, rather than the lead-based material used in conventional piezoelectric devices (lead is a known health hazard). Aluminum nitride is also easier to process. With at least one other research team developing a lead alternative, it could only be a matter of time before lead-free piezoelectric devices become a commonplace feature in infrastructure, factories, buildings, and vehicles.

Image: Energy vibrations by orosama on flickr.com.

POPULAR

Rasulullah Pingsan dan Menangis Saat Mendengarkan Jibril Mengisahkan Pintu Neraka

Yazid Ar raqqasyi dari Anas bin Malik ra. berkata: Jibril datang kepada Rasulullah pada waktu yang ia tidak biasa datang dalam keadaan berubah mukanya, maka ditanya oleh Rasululah Saw: "Mengapa aku melihat kau berubah muka (wajah)?" Jawabnya: "Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orang yang mengetahui bahwa neraka Jahannam itu benar, siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka-suka sebelum ia merasa aman daripadanya".

Sejarah Huruf Alfabet

Istilah alphabet sebetulnya berasal dari bahasa Semit. Istilah ini terdiri dari dua kata, yaitu aleph yang berarti 'lembu jantan' dan kata beth yang berarti 'rumah'. Konotasi pictografis dari pengertian kedua kata ini menjadi sebutan untuk menunjukkan huruf pertama a (aleph) dan b (beth) dalam urutan huruf-huruf semit (Mario Pei,1971:176). Ini bukan berarti bahwa tulisan tersebut memakai sistem pictografis-ideografis, akan tetapi malah sebaliknya. Orang-Orang Semit mengambil tanda gambar lembu (kepala lembu) dari huruf Hierogliph Mesir tanpa memperdulikan pengertian lembu itu dalam bahasa Mesir sendiri, sedangkan menurut bahasa Semit, lembu itu disebut aleph. Demikian juga dengan tanda gambar rumah yang mereka sebut beth. Kemudian dengan mempergunakan prinsip akroponi, tanda gambar kepala lembu, oleh masyarakat Semit dijadikan tanda untuk bunyi a dan tanda gambar rumah untuk bunyi b. Semua huruf pada alphebt Semit mempunyai konotasi seperti pictografis itu. Daerah y...

Kerajaan Jeumpa, Kerajaan Islam Pertama Nusantara

Teori tentang kerajaan Islam pertama di Nusantara sampai saat ini masih banyak diperdebatkan oleh para peneliti, baik cendekiawan Muslim maupun non Muslim. Umumnya perbedaan pendapat tentang teori ini didasarkan pada teori awal mula masuknya Islam ke Nusantara. Mengenai teori Islamisasi di Nusantara, para ahli sejarah terbagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu pendukung (i) Teori Gujarat (ii) Teori Parsia dan (iii) Teori Mekah (Arab). Bukan maksud tulisan ini untuk membahas teori-teori tersebut secara mendetil, namun dari penelitian yang penulis lakukan, maka dapat disimpulkan bahwa Teori Mekkah (Arab) lebih mendekati kebenaran dengan fakta-fakta yang dikemukakan. Teori Mekkah (Arab) hakikatnya adalah koreksi terhadap teori Gujarat dan bantahan terhadap teori Persia. Di antara para ahli yang menganut teori ini adalah T.W. Arnold, Crawfurd, Keijzer, Niemann, De Holander, SMN. Al-Attas, A. Hasymi, dan Hamka. i Arnold menyatakan para pedagang Arab menyebarkan Islam ketika mereka mendo...